Surya/

Citizen Reporter

Kemerdekaan Literasi Smarihasta

menyulap literasi menjadi kebiasaan sehari-hari siswa memang tidak mudah, namun cara-cara yang diterapkan di Smarihasta Malang ini laik diapresiasi..

Kemerdekaan Literasi Smarihasta
noval arisandi/citizen reporter
Pojok literasi di Smarihasta Malang 

Reportase Noval Arisandi
Pustakawan di SMAN 8 Malang

HAMPIR satu tahun SMA Negeri 8 (Smarihasta) Malang mendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN) pemerintah untuk membudayakan literasi masyarakat. Dampaknya pun mulai terlihat. Salah satu indikasinya, tingkat kunjungan di Perpustaaan Smarihasta menunjukkan progres membanggakan setiap bulannya.

Memang, bukan perkara mudah menumbuhkembangkan budaya literasi generasi millenial ini. Dan, sekolah tak akan berhenti menularkan literasi hingga menjadi kebiasaan dalam diri pelajar Smarihasta.

Bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke 72 Kemerdekaan Republik Indonesia, Perpustakaan Smarihasta mengadakan aneka lomba seputar kemerdekaan dan literasi, mulai 7 hingga 14 Agustus 2017, seputar perpustakaan kelas atau pojok literasi hingga lomba kreasi mading.

“Semoga tidak hanya sebagai bentuk euforia warga Smarihasta dalam menyambut kemerdekaan RI, tetapi ada manfaat yang bisa didapat pada akhirnya,” tutur Drs Soegeng Armadi MPd, Kepala Perpustakaan Smarihasta.

Pria kelahiran 26 November 1961 ini menambahkan, khusus pojok kelas atau pojok literasi yang sudah dijalankan sejak tahun lalu, perlu dikontrol sampai mana tingkat kegunaanya. Jangan sampai  itu hanya dijadikan sebagai hiasan kelas semata.

Kegiatan yang diikuti seluruh siswa kelas X, XI, dan XII itu melibatkan seluruh unsur yang ada di dalam kelas, mulai dari siswai, penasehat akademik (PA) hingga penanggung jawab kelas (PJ).

Antusiasme ditunjukkan para siswa, dengan kreativitas dan semangat yang mereka miliki, tak pelak beberapa di antara mereka rela pulang larut malam.

Dena Tri Oktavian, pustakawan Smarihasta mengatakan, dalam lomba kali ini mereka dituntut untuk pandai memanajemen kelas masing-masing, karena dua lomba dilakukan bersamaan. Peserta juga diharuskan membuat puisi hasil karya sediri sebagai syarat yang harus ada dalam poin penilaian lomba mading.

“Kelas mana yang kompak, itulah yang menjadi pemenangnya,” tegas pria asal Blitar ini.

Banyak pesan moral yang didapat dari kegiatan ini. Semangat persatuan dan kesatuan, gotong royong serta kerjasama tim sebagai bentuk upaya meneruskan perjuangan para pendahulu. Namun yang paling utama adalah, kesadaran akan pentingnya berliterasi tertanam dalam jiwa setiap siswa hingga menjadi kebiasaan yang bermanfaat.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help