Surya/

Berita Banyuwangi

Saat Sarjana Berprestasi Tinggal dan Mengajar di Daerah Terpencil Banyuwangi

Keduanya merupakan peraih beasiswa Banyuwangi Cerdas, dan saat ini mengajar di daerah terpencil melalui program Banyuwangi Mengajar.

Saat Sarjana Berprestasi Tinggal dan Mengajar di Daerah Terpencil Banyuwangi
surya/haorrahman
Elmy Nurmufidah (22) dan Daimatul Makrifah (23), saat dikunjungi oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. ‎ 

SURYA.co.id | BANYUWANGI -Masih muda dengan indeks prestasi (IP) rata-rata 3.5, para sarjana tinggal di pelosok-pelosok desa. Mereka tinggal di rumah warga, dan menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) di daerah terpencil Banyuwangi, seperti di pegunungan, perkebunan, atau kawasan hutan.

Dengan wilayah lebih luas dari Pulau Bali, Banyuwangi harus memiliki inovasi untuk menjangkau ke seluruh pelosok. Apalagi dengan karakter wilayah yang banyak terdapat kawasan hutan dan perkebunan, menjadi hal yang sulit mendapatkan guru berkualitas yang rela tinggal di daerah yang penuh keterbatasan.

Banyak SDN di Banyuwangi yang terletak di kawasan sulit terjangkau. Seperti SDN 6 Alasbuluh, yang terletak di Dusun Karangbaru Pal 4, Desa Alasbulu, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi.

Menuju ke desa ini membutuhkan waktu tiga hingga empat jam, dari jalan nasional, Jalan Situbondo-Banyuwangi.
Dihitung jarak dari jalan nasional ke dusun ini, sebenarnya hanya sekitar 7 kilometer. Namun jalan yang harus dilalui tidak beraspal, berdebu, berlubang, dan berbatu. Sehingga membutuhkan waktu yang lama.

Harus ekstra hati-hati saat memilih jalan. Kendaraan yang cocok untuk melalui jalan ini adalah kendaraan roda empat 4x4, atau roda dua jenis trail. Bahkan saat mengunjungi dusun ini, mobil yang ditumpangi penulis harus terhenti, karena bagian bawah mobil terbentur batu sehingga mengeluarkan air dan berbunyi.

Wilayah ini masuk daerah perkebunan, sehingga Pemkab Banyuwangi tidak memiliki wewenang untuk membangun jalan.
Di dusun itu, terdapat dua sarjana yang tinggal dan mengajar di SDN 6 Alasbuluh. Mereka adalah Elmy Nurmufidah (22), alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), IAIN Jember, dan Daimatul Makrifah (23), alumni Jurusan Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Jember.

Keduanya merupakan peraih beasiswa Banyuwangi Cerdas, dan saat ini mengajar di daerah terpencil melalui program Banyuwangi Mengajar. Selama menjalani program Banyuwangi Mengajar, mereka harus tinggal dan menetap di dusun itu.
"Kami berdua tinggal di rumah warga, yang dekat dengan sekolah," kata Elmy, saat dikunjungi, Kamis (7/9).

Keduanya sarjana ini tinggal di rumah salah satu guru tidak tetap di SDN 6 Alasbuluh. Tinggal dan mengajar di daerah terpencil, membutuhkan keikhlasan.

Tiap hari Elmy hanya mandi satu kali, karena kawasan ini minim sumber mata air. Warga mencukupi kebutuhan air bersihnya dari pompa sumur bor.

Kawasan ini tampak kering karena karakteristiknya tadah hujan. Penggarapan lahan pertanian mengandalkan air hujan. Saat kemarau lahan dibiarkan dan tidak ditanami, sehingga tampak kering. Ketika hujan ditanami jagung, cabai dan kacang hijau.

Halaman
1234
Penulis: Haorrahman
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help