Surya/

Reportase dari Yaman

Pesantren Kilat di Tarim, Yaman pun Dibanjiri Mualaf dari Berbagai Negara

bukan hanya artis peran dan anak ustadz kondang, banyak pula mualaf dari berbagai dunia nyantri di ponpes Darul Musthafa Tarim, Yaman ini ...

Pesantren Kilat di Tarim, Yaman pun Dibanjiri Mualaf dari Berbagai Negara
mukhlis febriyanto/citizen reporter
Artis peran Indonesia, Alfie Afandi, peserta dauroh di Ponpes Darul Musthafa, Tarim, Yaman 

Reportase Mukhlis Febriyanto
Mahasiswa Indonesia di Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Republik Yaman

SALAH satu intansi belajar di Tarim, Yaman adalah Pondok Pesantren Darul Musthafa. Setiap tahun, ma’had asuhan Habib Umar bin Hafidh itu selalu mengadakan dauroh, semacam pesantren kilat. Tahun ini, dauroh dimulai tanggal 7 syawal dan berakhir pada19 Dzulka’dah lalu.

Pesertanya tak hanya dari Yaman saja, melainkan ada pula yang datang dari Afrika Selatan, Bahrain, Saudi Arabia, India, Pakistan, Turki, Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika, Australia, Inggris, tak terkecuali Indonesia.

Memang, dauroh tersebut menjadi kesempatan emas bagi mereka yang tak punya banyak waktu belajar agama. Di dauroh itu, mereka bisa belajar langsung dengan ulama kelas dunia, seperti Habib Ali Al Masyhur dan Habib Umar bin Hafidh.

Tak ada batasan umur, profesi, suku, negara dan status sosial, mereka semua tergerak datang keTarim hanya karena satu alasan, keagungan Islam.

Banyak juga yang datang dari kalangan mualaf Eropa, Amerika dan Australia. Bahkan hadir juga artis peran Indonesia, pemeran Ustadz Jefri Al Bukhori dalam film Hijrah Cinta. Ya, Alfie Alfandi, artis berdarah Medan itu tampak antusias mengikuti majelis-majelis belajar di Darul Musthafa.

Ada juga remaja berkacamata, putra dari dai kondang Indonesia, KH Abdullah Gymnastiar atau Aa’ Gym.

Bahkan, dalam satu kesempatan di restoran di Tarim, saya bersua Muhammad Abdullah, bule dari Liverpool, Inggris. Ia bercerita tentang ketertarikannya dengan kota seribu wali ini.

Penasaran, saya pun bertama mengapa ia tertarik datang ke Tarim.

"Di sini saya mendapatkan apa yang tidak ada di rumah, yaitu ketenangan hati. Saya lebih tenang di sini dan rasanya ingin lebih lama di Tarim,  tapi saya punya pekerjaan (di Inggris), lain waktu saya akan kemabli ke sini lagi,” jawabnya.

Materi yang diajarkan di dauroh keseluruhannya menggunakan bahasa Arab, sehingga menjadi kendala tersendiri bagi peserta yang tak mahir berbahasa Arab.

Namun panitia sudah mengantisipasinya dengan membuat saluran radio lengkap dengan terjemahannya, sehingga mereka yang tak mahir berbahasa Arab, hanya bermodalkan radio di handphone dan earphone bisa mengakses layanan terjemahan tersebut.

Di saat majelis di mulai, mereka tinggal memilih saluran radio sesuai bahasa yang diinginkan.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help