Surya/

Bulutangkis

Klub Bulutangkis PB Djarum Krisis Ikon Atlet Tunggal Putra dan Putri

Kemegahan klub bulutangkis PB Djarum ternyata tidak dibarengi lahirnya ikon-ikon atlet tunggal putra dan putri yang gemilang.

Klub Bulutangkis PB Djarum Krisis Ikon Atlet Tunggal Putra dan Putri
surabaya.tribunnews.com/Dya Ayu
Laga babak final di GOR Bulutangkis Djarum, Kudus, Jumat (8/9/2017) sore. 

SURYA.co.id | KUDUS - Di tengah megahnya PB Djarum, ternyata saat ini, salah satu klub bulutangkis terbesar di Indonesia itu tengah krisis ikon klub putri, atau atlet muda posisi tunggal putri.

Hal ini disampaikan Fung Permadi, juru bicara pencari bakat sekaligus Manager Tim PB Djarum.

Fung menjelaskan, atlet single putri yang paling gemilang terakhir dan belum ada yang menandingi ialah prestasi Maria Kristin Yulianti.

Mantan atlet asal Tuban itu, dalam debut karirnya pernah berhasil meraih medali perunggu pada kejuaraan dunia di Olimpiade Beijing 2008, Juara beregu putri SEA Games 2007, Juara tunggal putri SEA Games 2007, Juara Cheers Asian Satellite 2006 dan beberapa gelar lainnya.

Kondisi ini menurut Fung terjadi karena belum ada bibit yang muncul dan mewarisi kemampuan Maria Kristin. Apalagi kemampuan seorang atlet tidak dapat dibentuk dengan gampang.

"Kami (Djarum,red) tidak memiliki ikon. Hingga kini masih belum ada. Dulu ada seperti Maria Kristin di single dan itu kembali ke atletnya sendiri ya. Bisa dibentuk tapi performa tidak sama, tidak seperti handphone yang tinggal menambah OS-nya, ini manusia. Semua kembali ke atletnya," kata Fung Permadi di GOR Djarum Kudus, Jumat (8/9/2017).

Kondisi atlet single putra Djarum juga tak jauh berbeda dari putri, sebab nama Taufik Hidayat menjadi atlet putra tunggal terakhir yang membawa nama Djarum di kancah dunia.

"Dulu ada Taufik Hidayat, sekarang kami belum ada. Kalau di ganda ada Kevin Sanjaya, tapi sekarang yang ikon tunggal putra belum ada yang mengalahkan Taufik," ujarnya.

Seperti diketahui, Taufik Hidayat pada 21 Agustus 2005 silam pernah menjadi juara dunia dengan mengalahkan pemain peringkat 1 dunia, Lin Dan, di babak final.

Prestasi itu mengukuhkan dirinya sebagai pemain tunggal putra pertama yang memegang gelar Kejuaraan Dunia BWF dan Olimpiade secara berturut-turut.

Penulis: Dya Ayu
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help