Surya/

Reportase dari Montenegro

Tilik Njegos Bapak dan Negarawan Besar Montenegro

Ditahbiskan sebagai uskup Montenegro di usia 17 tahun, dialah bapak Montenegro yang peran dan baktinya diakui hingga kini.. Petar II Petrovic-Njegos..

Tilik Njegos Bapak dan Negarawan Besar Montenegro
irawati prillia/citizen reporter
Patung diri Njegos di mausoleoum Njegos di bukit Lovcen, Njegusi, Montenegro 

Reportase Irawati Prillia
Pegiat literasi/traveller

PERJALANAN ini tidak hanya membawa saya ke tempat-tempat indah, kumuh, unik, namun juga mengajak saya mengenal banyak sekali hal-hal baru. Sejarah, peradaban kuno, serta manusia sebagai aktor sejarahnya.

Saat melawat ke Montenegro musim panas lalu, saya berkenalan dengan tokoh besar negeri ini, Petar II Petrovic-Njegos atau Njegos (1813 -1851).

Ketika Gia Sucur, seorang kenalan merekomendasikan tur sehari keliling beberapa tempat di Montenegro, saya tak memiliki ekspetasi apa-apa.

Saya sempat membaca sekilas tentang tur ini, mengingat satu dua tempat yang bakal kami kunjungi. Selebihnya, ah kita lihat saja nanti, pikir saya. Hasilnya di luar dugaan. Saya belajar banyak sekali tentang sejarah Montenegro.

Terlahir sebagai Radivoje (Rade) Petrovic  di Desa Njegusi pada 13 November 1813, Petar II merupakan seorang pemimpin negara, pemimpin agama, filsuf, sekaligus penyair terbesar dari Montenegro.

Ditabalkan sebagai Uskup Montenegro di usia 17 tahun, Njegos diakui banyak orang sebagai pemimpin terbesar di Montenegro, sebuah negeri bergunung-gunung di tepi Lautan Adriatik.

Diakui sebagai peletak dasar bangsa Montenegro moderen, saat memimpin agama dan pemerintahan, Njegos merombak susunan pemerintah pusat, memperkenalkan sistem pajak, mendirikan sekolah dasar, mengimpor alat cetak dari Venezia, memberikan beasiswa kepada beberapa siswa Montenegro untuk belajar ke Serbia, hingga memimpin banyak perlawanan terhadap Turki Usmani.

Syair-syair karyanya diwariskan dari mulut ke mulut secara turun temurun sampai saat ini. Bahkan menjadi pelajaran wajib di sekolah-sekolah.

Rombongan tur kami sempat diajak lewat desa kelahiran Njegos, Desa Njegusi, melewati rumah berdinding batu tempat Njegos lahir. Setelahnya kami merayap lewat jalanan berkelok khas pegunungan di Taman Nasional Lovcen. Menuju puncak tertinggi kedua Lovcen, ke Mausoleum Njegos, di ketinggian 1.657 mdpl.

Tak disangka, makam terpencil di atas gunung ini banyak pengunjungnya. Mobil-mobil parkir berderet-deret, hingga bus kami hanya bisa parkir kira-kira dua ratus meter dari pintu masuk. Njegos-lah yang berwasiat untuk dimakamkan di puncak tertinggi kedua. Puncak tertinggi, beliau relakan untuk pemimpin lebih hebat Montenegro yang mungkin muncul di generasi berikutnya.

Dari tangga terbawah dekat parkiran, kami harus menaiki 461 anak tangga, lewat undakan di bawah terowongan, sebelum sampai di pintu masuk mausoleum yang dikelilingi tembok tinggi. Tarif masuknya 2 Euro atau sekitar Rp 31.000.

Patung dua wanita jangkung menyambut kami di luar, sebelum kami memasuki ruangan beratap emas murni dan berdinding marmer. Di dalam ruangan ini saya menyaksikan patung megah sang pemimpin. Duduk sambil menyilangkan kaki, membelakangi seekor burung garuda.

Pintu masuk tempat peristirahatan terakhir Njegos berada di belakang ruang tersebut. Lokasinya di bawah tanah. Pusaranya berlapis marmer segi empat, berada dalam ruang berdinding marmer dan bernuansa putih. Meski sang pemimpin besar wafat di usia relatif muda, hampir 38 tahun, nama dan jasanya dirayakan masyarakat Montenegro hingga kini.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help