Surya/

Lapor Cak

Tak Seperti yang Digembor-gemborkan, Taman Keputih ini Tak Terawat

Kota Surabaya bisa disebut sebagai Kota Seribu Taman. Hampir semua sudut kota terdapat taman yang hijau. Namun ini hanya berlaku di tengah kota.

Tak Seperti yang Digembor-gemborkan, Taman Keputih ini Tak Terawat
surabaya.tribunnews.com/Nuraini Faiq
Papan nama Taman Hutan Kota Keputih, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kota Surabaya bisa disebut sebagai Kota Seribu Taman. Hampir semua sudut kota terdapat taman yang hijau. Namun ini hanya berlaku di tengah kota.

Saat surya melihat Taman Keputih di wilayah Surabaya Timur, ternyata tidak seindah yang digembar-gemborkan. Taman yang sangat luas ini sangat gersang.

Bahkan sejumlah pagar besi dibiarkan berkarat. Yang paling kentara adalah papan nama Taman Keputih yang karatan. Pada pola hiasan bunga di papan nama itu penuh karat.

"Ya setiap hari ya gersang begini. Panas dan banyak sampah plastik bertebaran," ucap Indra mahasiwa ITS yang hampir setiap sore Joging di taman ini, Kamis (7/9/2017).

Indra sempat terhenti persis di depan papan nama taman yang karatan. Menurutnya tidak saja mengganggu pemandangan jika papan nama penuh karat. Namun sangat disayangkan kondisi ini.

Meski demikian, dia mengapresiasi upaya Pemkot Surabaya yang menyulap tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi taman luas. Meski demikian jika kondisi itu dibiarkan tidak meninggalkan kesan yang baik bagi warga.

Sore tadi, hanya beberapa pengunjung yang mengunjungi Taman Harmoni Keputih. Namun makin menuju sore agak banyak yang berada di lokasi taman.

Namun lagi-lagi, konon taman yang disebut-sebut sebagai Taman Sakura Surabaya itu tak bisa memenuhi harapan pengunjung. Banyak bunga sakura yang tak terurus.

Bunga banyak yang layu. "Bagus taman ini karena sebelumnya tidak Karuan di tempat ini. Namun jika tidak dirawat dan terus dijaga tanaman dan aneka bunga, eman," ucap Gita, salah satu pengunjung.

Sore tadi, ada belasan pengunjung di taman ini. Namun kebanyakan adalah siswa SMA yang pacaran di taman ini. Selain itu, pengunjung itu bukan lagi menikmati Taman Keputih, namun lebih senang ke Hutan Bambu.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help