Surya/

Citizen Reporter

Athira Balada Sarung Sengkang Keliling Mancanegara

siapa tak kenal sarung? lewat film Athira inilah sarung Sengkang dari Wajo, Sulawwesi Selatan mendunia dalam besutan sutradara Riri Riza ..

Athira Balada Sarung Sengkang Keliling Mancanegara
muh bahruddin/citizen reporter
Riri Riza dikepung sarung Sengkang 

Reportase Muhammad Bahruddin
Dosen Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya/mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia

 

HAMPIR semua masyarakat Indonesia mengenal sarung. Bahkan sebagian besar orang Muslim Indonesia mengenakan kain kaya warna dan motif ini untuk salat. Sementara yang lain mengenakannya sebagai busana upacara, pesta, dan lain sebagainya.

Bagi masyarakat Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, sarung adalah kain andalan sebagai kekayaan budaya lokal Indonesia. Tak heran jika di daerah ini, begitu banyak jenis kain sarung yang diproduksi. Kekayaan inilah yang mengilhami sutradara Riri Riza mengangkat budaya sarung ke dalam film adaptasi novel berjudul Athira.

Film yang memenangkan enam penghargaan dari 10 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2016 ini mengangkat sarung sebagai produk budaya lokal Indonesia untuk dikenalkan pada dunia.

“Film adalah jendela dunia, karena itu film harus menampilkan produk budaya Indonesia. Salah satunya adalah mengenalkan sarung,” kata Riri Riza saat talk show di Museum Tekstil Jakarta, 23 Agustus 2017 lalu.

Bagi masyarakat Sengkang, sarung menunjukkan identitas dan menggambarkan kondisi seseorang. Karena itu, tonalitas warna sarung ditentukan oleh suasana hati pemakainya.

Misalnya, saat Athira sedang sedih karena ditinggal suaminya menikah lagi dengan perempuan lain, warna sarung yang dikenakannya cenderung pudar dan gelap.

Namun ketika ia bangkit dari keterpurukan dan mencoba untuk tegar, Athira memilih sarung-sarung berwarna cerah. Warna yang dipercaya mampu meningkatkan optimisme, semangat, dan energi di tengah keterpurukan.

Pembuatan sarung di Sengkang sebagian besar masih diproduksi secara manual dan diambil dari bahan-bahan alami seperti ulat sutra yang dibudidayakan sendiri. Proses pembuatan inilah yang menjadikan sarung sebagai kain yang sangat bernilai dan berharga bagi masyarakat.

Sebelum membuat film, sutradara terbaik Asian Film Festival 2013 ini melakukan observasi dan riset cukup mendalam untuk mengetahui filosofi sarung dan budaya masyarakat di sana.

Misalnya, penentuan warna dan bentuk sarung, serta gambaran dari tempat produksi sarung. Inilah yang menjadikan film Athira lebih kaya data dan informasi.

Kerja keras Riri Riza menampilkan budaya lokal ke dalam film tak sia-sia. Athira memenangi penghargaan FFI 2016 kategori pemeran utama wanita, sutradara, penata busana, pengarah artistik, penulis skenario, dan film terbaik.

Athira juga terpilih untuk diputar di sejumlah festival film internasional, seperti Vancouver International Film Festival di Kanada, Busan International Film Festival di Korea, dan Tokyo International Film Festival di Jepang.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help