Surya/

Citizen Reporter

Cermin Itu adalah Ali Muslimin

tanpa lengan kanan, Ali Muslimin, bisa riwa-riwi Lumajang-Jember-Surabaya mengantar jemput pasien dan para difabel dengan kendaraan yang disopirinya..

Cermin Itu adalah Ali Muslimin
istimewa
Penulis dan Ali Muslimin (berdiri kiri) 

Reportase S Hadi Wasito
Pegiat literasi/Aktivis/motivator Difabel Lumajang

KETERBATASAN bukan alasan untuk tidak peduli. Mungkin itu pelajaran yang bisa dipetik dari sosok Ali Muslimin (53), penyandang disabilitas asal Lumajang.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Lumajang yang hanya memiliki satu lengan kiri ini bagi sebagian orang mungkin dianggap keterbatasan.

Namun bagi ayah lima anak ini, hal tersebut sebagai anugerah yang memacu dirinya agar lebih berguna bagi orang lain.

Pengusaha makanan ringan yang piawai mengendarai mobil dengan transmisi manual itu bertekat mendedikasikan hidupnya sebagai relawan disabilitas dan sosial.

Lihat saja kesibukan pria sederhana ini. Senin (28/8), Ali mengantar pasien bibir sumbing, Ubaidillah, balita usia 3 bulan asal Pasrujambe, Lumajang, dan Yaumi Ramadhani (5), pasien konstruksi kaki, ke RS Paru di Jember.

Esoknya, Selasa (29/8/2017) Ali sudah di Surabaya mengikuti seminar Otoritas Jasa Keuangan di Hotel Yellow Jemursari Surabaya. Dan, Rabu (30/8/2017) ganti mendampingi pasien katarak asal Lumajang ke Klinik Mata Tritya di Surabaya.

Lumajang-Surabaya-Jember menjadi rute mingguannya mengantar pasien ke rumah sakit untuk menemui dokter rujukan. Tak jarang Ali menjadi sopir pribadi bagi mereka yang membutuhkan bantuannya.

Pria kelahiran Tukum, Kabuaten Lumajang yang pernah keliling Indonesia dengan sepeda kayuh ini jauh dari kesan ramai dalam penampilan kesehariannya. Tak heran banyak yang memandangnya sebelah mata. Toh Ali tak peduli itu.

Keriuhan Ali justru terjadi dengan mereka yang membutuhkan bantuannya, Armada minibus yang dikelolanya justru ia manfaatkan untuk mengantar jemput para difabel beraktivitas.

Tak heran bila setiap pertemuan rutin bulanan PPDI Lumajang ia datang terlambat karena harus menjemput anggota difabel satu persatu yang notabene memiliki gerak fisik terbatas.

Segala aktivitas sosialnya yang diakuinya merupakan panggilan jiwanya.

Salah satu hal yang patut diteladani dari Ali Muslimin adalah kebahagiaan itu ketika bisa berbagi kebahagiaan dan kepedulian dengan sesama.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help