Surya/

Berita Surabaya

Bahas Peristiwa Hotel Yamato, FISPI Hadirkan Menantu Pak Onny, Siapa Dia?

Ia mengingat sosok Onny yang memiliki jiwa patriotisme, bahkan ia sempat melihat mertuanya bertemu dengan Kusno.

Bahas Peristiwa Hotel Yamato, FISPI Hadirkan Menantu Pak Onny, Siapa Dia?
surya/sulvi sofiana
Dokter Jermy F Octavianus SpOG (K) bersama Perwakilan FISPI, Esthi Susanti, dalam dialog sejarah perobekan dan pengerekan bendera di Hotel Yamato, Rabu (6/9/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Peristiwa sejarah seringkali berubah karena adanya kesaksian dan bukti baru. Melihat hal ini Forum Inklusi Sosial dan Perdamaian Indonesia (FISPI) kembali membahas peristiwa bersejarah Kota Surabaya.

Yaitu peristiwa perobekan dan pengerekan bendera di hotel Yamato kini Hotel Majapahit pada 19 September 1945.

Diskusi ini menghadirkan dr Jermy F Octavianus SpOG (K), menantu Hermanus Onnysius Manuhutu.

Hermanus adalah sosok yang diklaim merobek bendera bersama Kusno Wibowo yang menjadi pelaku utama sejarah perobekan bendera belanda.

“Saya ingat betul saat saya masih sekolah nama Pak Onny (panggilan Hermanus Onnysius Manuhutu) ada dalam buku pelajaran sekolah saya. Tetapi saat ini sudah tidak ada,”ujarnya dalam dialog di Hotel MaxOne, Rabu (6/9/2017).

Ia mengingat sosok Onny yang memiliki jiwa patriotisme, bahkan ia sempat melihat mertuanya bertemu dengan Kusno.

Saat itu, ia tahu betul Kusno mencari mertuanya dan saat bertemu terlihat penuh haru.

“Pak Kusno sempat datang ke rumah mertua saya di Depok. Waktu itu saya dengar cerita mertua saya ikut dalam kejadian heroik di Surabaya saat sedang jalan-jalan,” ujarnya.

Dikatakannya, pada saat itu Pak Onny yang menurunkan bendera. Saat menurunkan tersebut Onny bertemu Kusno, dan momen perobekan juga mereka lakukan bersama.

Setelah periatiwa tersebut, Pak Onny justru takut karena keluarganya masih patuh pada pemerintahan Belanda.

“Mertua saya bilang, saya terpaksa harus bicara untuk anak cucu agar tahu. Sedangkan saat pada anaknya ia belum bisa berbicara karena orang tua dan keluarga besarnya warga Belanda,”ungkapnya.

Kisah dr Jermy ini dianggap FISPI sebagai peluang untuk kembali memperbarui sejarah yang ada. Bahkan, bisa menjadi pelengkap sejarah dengan berbagai bukti yang dimiliki keluarga dr Jeremy.

Perwakilan FISPI, Esthi Susanti mengungkapkan sejarah dari Kota Surabaya merupakan bagian dari harga yang dibayar untuk kemerdekaan Indonesia.

“Dialog ini kami buka berangkat dari keprihatinan akan kondisi bangsa yang berkonflik saat era perjuangan. Ini niatan membuka jalur ketiga yang tidak partisipan bukan seperti saat Orde Baru,”ujarnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help