Surya/

Berita Bisnis

Valuasi Harga Saham Indonesia Mulai Lebih Mahal Dibanding Negara Tetangga di ASEAN

Infrastruktur dalam APBN 2017 meningkat secara signifikan dibandingkan dengan tahun 2016 atau secara nominal mencapai Rp 387,3 triliun.

Valuasi Harga Saham Indonesia Mulai Lebih Mahal Dibanding Negara Tetangga di ASEAN
antara/fauziyyah sitanova
Ilustrasi, seorang pria berjalan di depan layar elektronik berisi informasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Memasuki paruh kedua tahun ini, pasar saham Indonesia masih terus memperlihatkan geliatnya.

Salah satunya tercermin dari pertumbuhan kinerja perusahaan khususnya laba bersih dan return on equity Indonesia yang lebih tinggi dibanding negara lain sehingga valuasi harga saham Indonesia sudah relatif lebih mahal dibanding negara tetangga di ASEAN.

Saat ini hingga akhir tahun diperkirakan Price Earning Ratio (PER) atau yang disebut juga rasio antara harga saham dengan laba bersih perusahaan Indonesia sekitar 17 kali, sudah mendekati +1.0 standar deviasi di atas rata rata dalam 5 tahun terakhir. PT Bahana Sekuritas memperkirakan tahun depan PER Indonesia bakal turun kekisaran 14-15 kali karena laba bersih perusahaan diperkirakan tumbuh sekitar 12% - 14% dari perkiraan tahun ini.

Dengan perkiraan valuasi harga saham yang tidak murah, (acting) Head of Research Bahana Henry Wibowo memberi rekomendasi bagi investor untuk fokus pada saham-saham pilihan sehingga bisa memberikan imbal hasil yang lebih optimal, khususnya saham big cap seperti misalnya saham-saham yang terkait infrastruktur.

''Pada semester kedua tahun ini hingga paruh pertama tahun depan, pemerintah akan menggenjot sejumlah proyek infrastruktur, karena pada periode itu menjadi waktu yang krusial bagi pemerintahan Joko Widodo untuk membukukan kinerja bagus yang nantinya bisa menjadi nilai positif saat kampanye yang diperkirakan sudah akan mulai pada kuartal terakhir tahun depan,'' kata Henry, Selasa (5/9/2018/7).

Pada semester pertama, pemerintah membukukan defisit fiskal hanya dibawah 2.0 persen dari produk domestik bruto (PDB), bila dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P 2017) pemerintah menargetkan defisit fiskal sebesar 2,67 persen untuk keseluruhan tahun, artinya pada semester kedua ini, ekspektasinya pemerintah akan menggenjot belanja.

Plus, tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, sehingga pemerintah akan memastikan semua sarana dan prasarana dalam perhelatan olah raga terbesar di kawasan ASEAN ini harus sudah siap dipakai sebelum para tamu negara datang ke Indonesia.

Data memperlihatkan untuk periode 2015-2019, total belanja infrastruktur Indonesia diperkirakan mencapai Rp 1.375 triliun atau naik hampir 50 persem dibanding belanja infrastruktur pemerintah periode 2005 hingga 2014.

Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan anggaran infrastruktur dalam APBN 2017 meningkat secara signifikan dibandingkan dengan tahun 2016 atau secara nominal mencapai Rp 387,3 triliun.

Hal tersebut dapat tercapai dengan melalui peningkatan efisiensi belanja dan peningkatan earmark Dana Transfer Umum yang dikhususkan untuk infrastruktur.

Dana tersebut akan dipakai antara lain untuk membangun sekitar 836 kilometer jalan, 10.198 meter jembatan, membangun dan mengembangkan 13 bandara, membangun dan mengembangkan 61 pelabuhan laut termasuk juga membangun jalur kereta api yang semuanya tersebar di seluruh Indonesia.

Sehingga Bahana merekomendasikan beli untuk sektor big cap terkait infrastruktur seperti saham PT Jasa Marga dengan kode saham JSMR dengan target harga Rp 6.600, dan PT Semen Indonesia dengan kode SMGR, dengan target hargaRp 11.600/lembar saham. Bahana juga menyukai bank BUMN milik negara yang memberikan pembiayaan besar terhadap proyek infrastruktur pemerintah seperti PT Bank Mandiri dengan kode saham BMRI dan Bank Rakyat Indonesia dengan kode saham BBRI, masing-masing dengar target harga Rp 16.250 dan Rp 17.000.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help