Surya/

Citizen Reporter

Menyimak Nasihat Nyai Ahmad Dahlan, karena Kain Kafan Tak Bersaku

karena kain kafan tak berkantong saku, maka tak ada harta yang bakal dibawa oleh si mati, karena sejatinya harta itu titipan Allah, maka sedekahkanlah

Menyimak Nasihat Nyai Ahmad Dahlan, karena Kain Kafan Tak Bersaku
iras film/istimewa
ilustrasi film Nyai Ahmad Dahlan 

Reportase ANANG DONY IRAWAN
Pegiat Literasi/Penikmat Sejarah

RABU, tanggal 24 Agustus 2017 adalah hari pertama penayangan film Nyai Ahmad Dahlan. Rombongan warga Sambikerep pun memadati Studio 5 PTC XXI Surabaya.

Nyai Ahmad Dahlan, perempuan yang diganjar gelar pahlawan nasional ini tak lain adalah istri KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

Jiwa, raga, juga hartanya diwakafkan Nyai Ahmad Dahlan demi mendukung perjuangan sang suami menyediakan wadah bagi anak-anak muda untuk menggelorakan dakwah Islam.

Karena kain kafan tidak ada sakunya, maka bagi yang mati tidak akan membawa apa-apa karena harta adalah titipan Allah SWT, menjadi ujaran yang menohok bagaimana Nyai Ahmad Dahlan menenangkan sang suami ihwal harta yang ia sedekahkan di jalan kebenaran.

Tak selamanya perjalanan dakwah KH Ahmad Dahlan mulus. Pedihnya penolakan juga dirasakan oleh Nyai Ahmad Dahlan saat   ditolak di Banyuwangi. Namun, dengan bijak KH Ahmad Dahlan bisa mengatasinya.

Beliau mengingatkan bahwa musuh bersama mereka adalah Belanda, bukan sesama saudara. Karena sampai kapanpun umat Islam adalah satu, umat Islam adalah saudara. Manakala yang satu disakiti, yang lain juga ikut sakit.

Agar umat Islam tak kerdil pemikiran, cara yang harus ditempuh adalah dengan mencerdaskan generasi muda agar nanti terlahir anak-anak muda yang cerdas pula dan mendakwahkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Dibintangi David Chalik (KH Ahmad Dahlan) dan Tika Bravani (Nyai Ahmad Dahlan) film besutan sutradara Olla Atta Adonara ini menggambarkan bagaimana Nyai Ahmad Dahlan sebagai sosok ibu, guru, sekaligus sahabat.

Bagaimana Nyai Dahlan sebagai ibu dan guru saat membimbing kaum perempuan melek pendidikan. Juga sebagai sahabat saat dibutuhkan.

Bahkan, Jenderal Soedirman pun membangun komunikasi dengan Nyai Dahlan untuk meminta nasihatnya.

Film berdurasi dua jam itu menyisipkan pesan dalam jalan dakwah, bahwa jangan mundur saat dicela, ikhlas dalam menjalaninya, dan perempuan sebagai pendamping suami punya hak untuk menjadi pintar.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help