Bermula dari AC Rumah Mati, Thony Menggagas Aplikasi Tuupai

Berawal dari kekecewaan karena petugas jasa perbaikan AC tak kunjung datang saat dia butuh, pemuda dari Surabaya ini sukses kembangkan aplikasi Tuupai

Bermula dari AC Rumah Mati, Thony Menggagas Aplikasi Tuupai
surabaya.tribunnews.com/Achmad Pramudito
Aplikasi Tuupai melayani kebutuhan masyarakat yang ingin memperbaiki berbagai peralatan elektronik rumah, maupun memperbaiki kerusakan rumah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Bermula dari pengalaman pribadi yang bikin tidak nyaman, Anthony Gunawan pun menggagas sebuah aplikasi untuk melayani seluruh kebutuhan rumah tangga. Yang membanggakan, aplikasi yang diberi nama Tuupai dan baru pertama kali ada di Indonesia ini total bikinan arek Suroboyo.

“Waktu pulang dari Amerika, saya kerepotan waktu cari tukang untuk betulkan AC di rumah. Nggak cuma AC mati, ditambah aliran listrik padam. Lengkap sudah penderitaan di rumah, sebab tukang yang saya hubungi bilang dia baru bisa datang dua tiga hari kemudian,” tutur pria yang akrab disapa Thony ini.

Ketika pengalaman buruknya itu disampaikan ke teman-temannya, lanjut Thony, ternyata mereka punya kisah buruk yang sama. Itu pula yang kemudian membuatnya tercetus untuk membuat aplikasi online yang bisa melayani semua yang berkaitan dengan urusan rumah, mulai AC, mesin cuci, TV, dan air.

“Total ada 24 layanan yang bisa kami penuh saaat ini. Dan masing-masing jenis layanan punya banyak teknisi dengan kemampuan yang sudah kami uji,” kata Thony yang sempat belajar soal Finance dan Entrepreneurship di Los Angeles Amerika Serikat ini.

Menurut Thony, vendor Tuupai bahkan siap membantu konsumen yang ingin membangun rumah dari nol. “Kami ada tukang sekaligus mandornya,” imbuh Thony yang juga CEO Tuupai.

Selama sekitar dua bulan, Thony dibantu lima orang temannya tak hanya mempersiapkan aplikasi Tuupai yang kini tersedia di gawai berbasis Android. Mereka juga menyeleksi vendor yang nantinya melayani jasa sesuai kebutuhan yang pilihannya sudah ada dalam aplikasi tersebut.

Untuk menjaga kualitas vendor, manajemen Tuupai memberlakukan point system, yaitu sanksi penalty bagi yang sering melakukan kesalahan, serta reward bagi yang bisa memenuhi permintaan klien dengan baik.

“Jika kesalahan yang dilakukan oleh vendor sudah sampai pada titik tertentu dia akan di-banned (diblokir),” tandasnya.

Vendor yang kena blokir itu antara lain karena dianggap kurang responsif ketika mendapat permintaan dari pelanggan. Juga karena sudah berjanji datang, ternyata tidak tepat waktu. Atau saat pengerjaan tugasnya malah merusak barang milik pelanggan.

“Dan pelanggaran paling parah adalah ketika dia diketahui mencuri barang pelanggannya,” cetus Thony yang sempat bekerja di bidang Finansial Advisor di Boston, Amerika Serikat.

Sedang bagi vendor yang mendapat banyak tanda bintang dari pelanggan, akan mendapat hadiah dari manajemen Tuupai.

“Selain hadiah berupa uang cash, kami juga siapkan tiket liburan. Ini agar vendor meningkatkan diri menjalankan tugas dengan baik memenuhi permintaan klien,” tegasnya.

Mengenai pemilihan nama Tuupai, Thony mengaku terinspirasi dari satwa yang dianggap lincah. Dia berharap vendor yang bergabung diaplikasi Tuupai ini bisa bertindak lincah saat melayani kendala yang dialami pelanggan.

“Selain kecepatan, semangatnya seperti tupai yang mengekspresikan keceriaan. Di sisi lain, nama tupai kan mudah diingat serta terkesan lucu dan friendly,” katanya. 

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved