Surya/

Berita Gresik

Sidang Kasus Garam- Terdakwa Kecewa Awalnya Dugaan Korupsi kini hanya Kasus ini

“Pertama yang dikasuskan itu dugaan tipikor (Tindak pidana korupsi), kemudian TTPU (Tindak pidana pencucian uang) dari hasil impor garam."

Sidang Kasus Garam- Terdakwa Kecewa Awalnya Dugaan Korupsi kini hanya Kasus ini
surya/sugiyono
KASUS GARAM - Terdakwa Achmad Boediono, Direktur Utama (Dirut) PT Garam nonaktif menjalani persidangan di PN Gresik, Senin (4/9/2017). 

SURYA.co.id | GRESIK – Terdakwa Achmad Boediono, Direktur Utama (Dirut) PT Garam nonaktif menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Kuasa hukum terdakwa kecewa atas kasus yang menjerat kliennya.

Sebab, awalnya dikabarkan kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TTPU) tapi ujung-ujungnya hanya soal pelanggaran konsumen.

Maha Awan Buana kuasa hukum terdakwa Achmad Boediono, usai persidangan mengatakan sejak ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus impor garam sampai kasus Undang-undang konsumen.

“Pertama yang dikasuskan itu dugaan tipikor (Tindak pidana korupsi), kemudian TTPU (Tindak pidana pencucian uang) dari hasil impor garam dan sekarang hanya dikenakan unsur pelanggaran Undang-undang konsumen. Sebab dugaan tipikor dan TTPU tidak terbukti,” kata Maha Awan Buwana, usai persidangan, Senin (4/9/2017).

Dalam persidangan kasus dugaan pelanggaran konsumen, Maha Awan juga mempertanyakan apakah ada konsumen yang dirugikan.

“Ada gak konsumen yang terkena darah tinggi dan kejang-kejang setelah konsumsi garam. Sampai saat ini belum ada laporan,” imbuhnya.

Menurutnya, terdakwa Achmad Boediono menjadi korban atas kebijakan pemerintah sebab banyak perusahaan pengemasan garam tidak ditangkap.

Padahal perusahaan lain juga mengemas dan menjual belikan garam yang kandungan NaCL (Natrium Klorida) lebih dari 94,7 persen.

“Nanti saya datangkan saksi ahlinya. Ahli kimianya. Dalam garam konsumsi itu dalam dalam SNI (Standar nasional Indonesia) untuk garam konsumsi itu minimal 94,7 persen. Sedangkan maksimalnya tidak diatur,” katanya.

Bahkan tindakan kliennya merupakan penyelamatan stabilitas kebutuhan garam. Sebab menjelang hari raya Idul Fitri kebutuhan garam sangat meningkat.

“Pembuatan kemasan kalau dilelang bisa makan waktu tiga bulan. Bisa Lebaran tidak makan garam dan gejolaknya akan luar biasa. Sebab banyak yang menggunakan garam, ikan pakai garam, masakan semuanya pakai garam. Jika tidak ada garam, maka harga itu akan naik semua. Ditambah mendekati Idul Fitri,” imbuhnya.

Sidang akhirnya dilanjutkan pekan depan dengan agenda keterangan saksi. Dengan jaksa penuntut umum (JPU) yang diketuai Lyla Yusrifa P.

Penggrebekan gudang milik PT Garam di Jl kapten Darmo Sugondo, Kecamatan Kebomas oleh Mabes Polri pada Juni 2017.

Dari penggrebekan itu Achmad Boediono Dirut PT Garam yang sudah nonaktif, menjadi tersangka tunggal.

Penulis: Sugiyono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help