Berita Kampus Surabaya

Gagal Lulus karena Terganjal Sertifikat TOEFL, Mahasiswa Unair Demo Rektorat

Ketua Pusat Informasi dan Humas, Suko Widodo menyatakan unjuk rasa ini berkaitan dengan permasalahan internal dalam kepengurusan kelulusan mahasiswa.

Gagal Lulus karena Terganjal Sertifikat TOEFL, Mahasiswa Unair Demo Rektorat
surya/bobby constantine koloway (Bobby)
Suko Widodo 

SURYA.co.id | SURABAYA - Prosedur kelulusan pendidikan tinggi saat ini cukup beragam, di Universitas Airlangga kelulusan ELPT-TOEFL menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi mahasiswa.

Hal ini memicu lebih dari 102 mahasiswa dari seluruh fakultas di Universitas Airlangga berunjuk rasa di rektorat Unair, Kamis (31/8/2017). Unjuk rasa juga berlangsung di kampus B Unair.

Berdasarkan keterangan Ketua Pusat Informasi dan Humas, Suko Widodo unjuk rasa ini berkaitan dengan permasalahan internal dalam kepengurusan kelulusan mahasiswa. Yaitu ditemukannya sejumlah pemalsuan ijazah ELPT-TOEFL.

Dosen FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) ini mengungkapkan pada Kamis (31/8/2017) siang telah dilakukan dialog antara mahasiswa dengan pihak rektorat.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa meminta maaf atas kesalahan pemalsuan sertifikat ELPT-TOEFL yang merupakan syarat kelulusan yudisium.

“Kasus awal itu sekitar lebih dari 200 mahasiswa FISIP telah meminta solusi terkait pemalsuan sertifikat ELPT-TOEFL kepada pimpinan fakultas. Namun, pimpinan FISIP menyerahkan kepada pihak rektorat,”jelasnya ketika dikonfirmasi.

Dikatakannya, penyerahan sertifikat ELPT-TOEFL berdampak pada molornya waktu lulus mahasiswa.
Mereka tidak berhasil mengikuti wisuda bulan September 2017, sehingga secara otomatis mereka juga harus memenuhi kewajiban pembayaran sumbangan operasional pendidikan(SOP) semester berikutnya.

“Mahasiswa keberatan dengan hal pembayaran sumbangan operasional pendidikan. Alasannya, mereka merasa sudah tidak memiliki kewajiban akademik. Mereka minta sistem Unair dievaluasi dengan tidak perlu mencantumkan sertifikat ELPT-TOEFL sebagai syarat kelulusan,”paparnya.

Dikatakannya, mahasiswa menilai kasus pemalsuan sertifikat ELPT-TOEFL bukan hal baru di Unair.
Sehingga mereka meminta agar setiap fakultas menyelenggarakan kelas Bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

“Mahasiswa yang melakukan pemalsuan sertifikat ELPT-TOEFL seharusnya bisa dikenai KUHP. Namun, Unair tidak memilih jalan tersebut. Mahasiswa diminta untuk mengikuti aturan yang berlaku dengan tes ulang dan melakukan pembayaran. Karena kami menganggap mahasiswa yang melakukan pemalsuan belum memenuhi persyaratan lulus,” ungkapnya.

Meskipun demikian, jika memang penyerahan sertifikat ELPT-TOEFL dianggap sebagai kesalahan sistem pendidikan, ke depan akan dievaluasi dan diperbaiki.

Sistem akan teruji ketika sudah diimplementasikan. Dan meminta mahasiswa tetap memenuhi kewajibannya membayar SOP selama belum lulus.

“Jika mahasiswa merasa keberatan dengan pembayaran SOP, maka mereka dipersilakan untuk mengajukan penundaan pembayaran.Alurnya, minta surat keterangan dari RT/RW, dan sebagainya,” paparnya.

Dikatakannya terkait pembebasan SOP akibat proses pengurusan ELPT-TOEFL bisa dilakukan. Hanya saja kasus pemalsuan sertifikat ELPT-TOEFL dianggap sebagai special case. Maka, kasus ini akan dipertimbangkan.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help