Surya/

Travel

Kesenian Jaran Bodag Lumbang, Turun Temurun Sejak Zaman Majapahit

Keunikannya ini, bagi siapapun yang menunggangi bodag sambil memegang kepalanya akan merasakan sensasi menunggang kuda aslinya.

Kesenian Jaran Bodag Lumbang, Turun Temurun Sejak Zaman Majapahit
surya/galih lintartika
Kesenian tradisional Jaran Bodag khas Lumbang, Probolinggo saat tampil dalam kirap budaya dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan ke-72 

SURYA.co.id | PROBOLINGGO - Kesenian tradisional Jaran Bodag memang sudah mulai dilupakan. Namun, niatan dan semangat untuk melestarikan kesenian asal Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo ini tetap menyala.

Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Lumbang pun bahkan bergandengan tangan untuk menjaga dan melestarikan kesenian budaya ini.

Bahkan, dalam momen HUT Kemerdekaan RI ke-72, Forpimka Lumbang menggelar acara seni budaya Jaran Bodag Untuk Meriahkan HUT Kemerdekaan, Minggu (27/8/2017) siang.

Kirab seni budaya tradisional jaran bodag kesenian khas Lumbang kabupaten Probolinggo ini diikuti 600 orang peserta, yang terdiri 20 jaran bodag.

Masing masing jaran bodag diikuti oleh 65 orang yang berperan sebagai selempangan.

Jaran Bodag dari tiap-tiap RW se-Desa Lumbang diajak berjalan dan diarak dengan menempuh jarak tempuh sejauh tiga kilometer.

Informasi yang berkembang, kesenian jaran bodag ini sudah ada sejak kerajaan Majapahit.

Konon katanya, seni budaya tradisional jaran bodag ini dibuat oleh Mbah Namengjoyo.

Beliau merupakan sosok yang babat alas lumbang di tahun 1700. Yang menjadi ciri khas kesenian ini karena keunikannya.

Keunikannya ini, bagi siapapun yang menunggangi bodag sambil memegang kepalanya akan merasakan sensasi menunggang kuda aslinya.

Halaman
12
Penulis: Galih Lintartika
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help