Single Focus

#Eatery, Tempat Nongkrong Semua Segmen, Bikin Betah Penikmat Kuliner

"Sekarang banyak pujasera yang enak dikunjungi. Menawarkan beragam makanan dengan harga terjangkau, lebih penting suasananya asyik buat nongkrong."

#Eatery, Tempat Nongkrong Semua Segmen, Bikin Betah Penikmat Kuliner
surya/achmad zaimul haq
PIONIR - Sejumlah pengunjung makan siang di Aiola Eatery, Selasa (22/8). Aiola Eatery merupakan pionir tempat makan di Surabaya dengan konsep menyatukan sejumlah makanan PKL di satu tempat. 

Jika area outdoor dominan dengan unsur kayu, maka tempat makan indoor dibuat friendly dengan sentuhan aneka mural.

"Selain enak buat makan rame-rame, juga asyik buat foto. Tetapi yang nomor satu, makanannya enak dan murah," celetuk Aurel, pengunjung yang datang bersama teman-teman satu genknya.

Untuk pilihan menu, ada banyak stan (rombong makanan dan minuman) yang bisa dipilih. Semua dengan harga terjangkau. Pengunjung tinggal pesan makanan dan minuman yang diinginkan ke rombong, bayar di kasir dan duduk di tempat yang diinginkan, bisa di indoor atau outdoor.

"Tempatnya bersih, suasananya enak dan banyak pilihan makanan. Lokasinya pun startegis di tengah kota," ujarnya.

Aiola Eatery bukan satu-satunya pujasera untuk nongkrong yang asyik. Di Kota Pahlawan ada banyak pilihan, seperti pujasera Makmu di Jl Sukarno Hatta atau MERR, pujasera di Jl Nginden Surabaya atau De Kampoeng Sutos untuk kelas menengeah ke atas.

"Saya beberapa kali makan di Makmu di MERR. Tempat ini enak buat kumpul-kumpul bersama teman," kata Toni. Meski lokasi Makmu di pinggir Surabaya, tapi tetap asyik juga buat nongkrong.

Tak Khawatir Lagi
Dari segi menu makanan, pemilik eatery ini sengaja memilih pedagang kaki lima (PKL) untuk bergabung dan melayani pelanggan yang datang. PKL yang diajak masuk ke eatery ini konon dipilih yang sudah terkenal dan memiliki banyak pelanggan fanatik.

Sebut saja, Mie Pitik Bang Azat, Bubur Ayam Mang Dudung, Nasi Madura, Batagor dan Siomay, bahkan jajan tradisional, seperti leker yang sengaja ditarik dari kampung A Universitas Airlangga.
Para PKL yang masuk ke eatery Aiola ternyata merasakan betul perbedaannya dibanding saat masih berjualan di pinggir jalan.

"Dulu kalau masih di jalan, saat hujan, pelanggan sudah pada pulang, nggak ada yang beli, tapi sejak disini saya sudah tidak khawatir," kata Sukun, penjual leker yang sudah setahun bergabung di Aiola.

Jika sebelumnya bisa menjual 1,5 kilogram tepung, sekarang meningkat menjadi 2,5 kilogram tepung. Atau bisa menghasilkan dan menjual 500 leker.

Begitu juga dengan harga lekernya. Saat masih di jalanan, ia menjual leker Rp 1.000 perbiji. Namun di sini Rp 11.000 dapat enam leker.

Halaman
123
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help