Surya/

Konsumsi Sabu-sabu, Anak Muda Lebih Rentan Terkena Serangan Stroke

Penelitian terbaru menyebutkan bahwa mengonsumsi sabu-sabu, ternyata dapat memicu terjadinya stroke para anak muda. Jadi, jauhi narkoba!

Konsumsi Sabu-sabu, Anak Muda Lebih Rentan Terkena Serangan Stroke
Yeargan Barber & Kert
ilustrasi sabu-sabu 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sabu-sabu adalah salah satu jenis narkoba yang saat ini peredarannya semakin gencar, termasuk di Jawa Timur.

Bagi kamu yang belum tahu, sabu-sabu memiliki bentuk seperti kristal yang dikonsumsi dengan cara membakar kristal tersebut yang dibungkus alumunium dalam sebuah pipa.

Nah, oleh para penggunanya, uap hasil pembakaran itulah yang dikonsumsi lewat alat yang populer disebut bong.

Bahan kimia yang mengandung metamphetamin ini dilarang dikonsumsi ataupun diedarkan di Indonesia.

Di antaranya karena efeknya yang berbahaya.

Terhadap kondisi psikologi, sabu-sabu dapat menyebabkan beberapa dampak seperti gelisah dan tak dapat tenang, cemas, depresi, kehilangan semangat, paranoit, delirium atau perubahan kesadaran, agresif, sensitif, hingga halusinasi.

Sementara bagi kesehatan secara fisik, penelitian terbaru menyebutkan bahwa penggunaan zat metamphetamin ini juga menyebabkan anak-anak muda semakin rentan terkena serangan stroke.

Hal ini seperti diungkap oleh penelitian terbaru yang menyebutkan bahwa penggunaan zat methamphetamin seperti yang terkandung di dalam sabu-sabu dapat menyebabkan pendarahan di dalam otak karena pembuluh darah yang memasok darah ke otak, pecah, atau yang disebut hemorrhagic stroke (stroke hemoragik). Kondisi ini berbeda dengan ishemic stroke (stroke isemik) yang disebabkan oleh membekunya darah atau blood clots.

Seperti dilansir dari livescience, penelitian mengenai ini telah disebutkan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry edisi 23 Agustus.

Dalam artikel jurnal tersebut disebutkan, peneliti telah menganalisis data dari 77 laporan yang mengaitkan hubungan antara penggunaan methamphetamin dengan serangan stroke terhadap orang berusia kurang dari 45 tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan methamphetamine berdampak terhadap terjadinya serangan stroke akibat pendarahan otak.

Sebagai contoh, dari 3 juta pasien yang dirawat di RS di Texas, ditemukan bahwa anak-anak muda yang kecanduan methamphetamine, lima kali lebih berpeluang terkena serangan stroke hemorrhagic. Ini bila dibandingkan dengan anak-anak muda lainnya yang sama sekali tidak pernah mengonsuminya.

"Peringatan tentang peningkatan risiko terjadinya hemorrhagic stroke perlu disampaikan lebih gencar kepada anak-anak muda dan komunitasnya yang mengonsumsi methamphetamine," kata peneliti dalam artikel tersebut.

Penulis: Eben Haezer Panca
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help