Surya/

Reportase dari Mesir

Beginilah Jika Kairo Memuliakan Kaum Hawa …

bukan hanya gerbong khusus kaum hawa, gerbong umum dan bus umum tetap harus mendahulukan perempuan sebagai penumpang utama... lelaki? minggir dulu...

Beginilah Jika Kairo Memuliakan Kaum Hawa …
pixabay.com
ilustrasi 

Reportase Muhammad Sidqi
Staf redaksi buletin El-Asyi KMA Mesir/Mahasiswa asal Indonesia di Universitas Al-Azhar Kairo

KAIRO, ibu kota Mesir ini dikenal sebagai salah satu kota terpadat di dunia. Saat berpergian warga Kairo memilih menggunakan metro (kereta listik) agar terhindar dari kemacetan kota.  

Khusus mengenai moda transportasi metro ini, Mesir mempunyai aturan khusus bagi penumpang hawa. Saat berada di metro kaum hawa ini dapat leluasa memasuki gerbong khusus tanpa harus berdesak-desakan.

Keadaan seperti ini tentu saja sangat berbeda dengan gerbong umum untuk para pria. Pun penulis yang harus berdesak-desakan terlebih dahulu dengan orang-orang Mesir yang posturnya relatif jauh lebih besar.

Ada tiga gerbong yang disediakan Dinas Perhubungan Mesir khusus untuk para wanita agar tak berbaur dengan laki-laki. Tulisan Arab tertera tepat di atas pintu masuk gerbong 'lissayyidat faqath' atau hanya untuk perempuan.

Dengan adanya gerbong khusus ini setidaknya dapat menekan angka kriminalitas terhadap perempuan di tengah padatnya metro.

Di dalam gerbong umum yang ditempati lelaki dan perempuan juga tak jauh beda, perempuan tetap lebih diutamakan untuk duduk, terlebih jika perempuan dalam kondisi hamil atau membawa bayi.

Di stiker yang tertempel di atas kursi-kursi tertulis 'al mukhassas likibarissin wa dzawil ihtiyajat' atau kursi tersebut diperuntukkan bagi orang tua dan penyandang kebutuhan khusus, disertai dengan gambar lansia, ibu hamil, orang cacat, dan ibu menggendong anak.

Berdasar pengalaman, saat penulis pergi kuliah menggunakan metro, hampir setiap hari penulis tidak kebagian tempat duduk dan harus rela berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain karena banyaknya kaum hawa yang masuk ke gerbong umum. Pun begitu halnya di dalam bus.

Pernah suatu hari saat hendak pulang dari Markaz Lughah yang berbasis di wilayah Hay Sadis, penulis dan teman-teman menaiki bus kosong belum terisi penumpang dan mengambil tempat duduk masing-masing.

Kami duduk di kursi depan, tepat di belakang sopir. Tak lama kemudian sekelompok mahasiswi menaiki tangga dan masuk ke dalam mobil. Sontak sopir menginstruksikan kepada kami agar berdiri  dan memberikan tempat duduk untuk para mahasiswi tadi.

Dari praktik tersebut penulis menyimpulkan bahwa Mesir adalah negara yang sangat paham akan perempuan dan memosisikannya sebagai makhluk lembut dan mulia.

Semoga perempuan selalu dimuliakan dalam aspek dan konteks apapun sesuai dengan tuntunan syariat.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help