Surya/

Berita Jombang

Putra Putri Pendiri Bangsa: Indonesia Ada Perpecahan, Solusinya Rawatlah Bhineka Tunggal Ika

Secara singkat berisi antara lain Bhineka Tunggal Ika merupakan semangat yang harus dirawat dan digunakan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Putra Putri Pendiri Bangsa: Indonesia Ada Perpecahan, Solusinya Rawatlah Bhineka Tunggal Ika
surya/sutono
Para putra pendiri negara berfoto bersama Mensos Khofifah Indar Parawansa, usai pertemuan. 

SURYA.co.id | JOMBANG – Tujuh putra-putri pendiri bangsa dan para tokoh lintas agama mencetuskan seruan kebangsaan di Ponpes Tebuireng Jombang, Minggu (13/8/2017)

Seruan kebangsaan dibacakan Meuthia Farida Hatta (putri Mantan Wapres Moh Hatta) setelah para putra pendiri bangsa melakukan testimoni.

Rata-rata testimoni berisi keprihatinan bahwa bangsa Indonesia saat ini, diakui atau tidak, besar atau pun kecil, berada dalam perpecahan. Minimal ada potensi perpecahan.

Adapun seruan kebangsaan itu, secara singkat berisi antara lain Bhineka Tunggal Ika merupakan semangat yang harus dirawat dan digunakan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kemudian, semua harus bersatu memperkokoh kedaulatan bangsa. Selanjutnya, pemerintah harus konsisten dalam menjalankan tugas yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945 mengenai tujuan pendirian negera.

Juga diserukan, tokoh-tokoh partai politk harus mengubah orientasi meraih kekuasaan semata menjadi orientasi melayani masyarakat.

Tokoh-tokoh parpol punya jiwa kenegarawanan terutama dalam pengelolaan ekonomi nasional, keamanan nasional dan penegakan keadilan serta kepastian hukum.

Birokrasi pemerintahan diserukan harus melakukan tranformasi menjadi pelayan masyarakat yang profesional dan berintegritas.

"Media secara keseluruhan harus menjalankan fungsinya sebagai sarana pendidikan bangsa dan memberikan informasi yang benar. Media perlu mengisi jiwa rakyat dengan rasa kemanusiaan yang tinggi," kata Meuthia Farida Hatta.

Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Salahudin Wahid (Gus Solah), tuan rumah yang juga putra mantan Menteri Agama RI KH Wahid Hasyim menyatakan, saat ini minimal ada potensi perpecahan.

Sedang Mensos Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, potensi perpecahan yang bersumber dari egosentris kelompok dan perorangan membuat para putra pendiri bangsa turun gunung.

Menurut Khofifah, mereka memanggil memori kita, bahwa negara ini, dibangun atas ribuan suku, bahasa daerah, ribuan pulau, dan keanekaragaman lainnya.

"Kalau egosentris dikedepankan, bisa terjadi Sulawesi menjadi Celebes, Sumatra jadi Andalas, Kalimantan jadi Borneo dan sebagainya. Tidak ada lagi Indonesia," kata Khofifah.

Khofifah berjanji menyampaikan seruan itu kepada Presiden Jokowi.

Hadir dalam pertemuian putra pendiri bangsa itu KH Salahudin Wahid (putra KH Wahid Hasyim), SR Handini Maramis (putri AA Maramis), Agustanzil Syahroezah (cucu KH Agus Salim).

Kemudian MA Rohadi Soebardjo (putra Achmad Soebardjo), Nugroho Abie Koesno (putra Abi Koesno), dan Meuthia Farida Hatta (putri proklamator Moh Hatta).

Penulis: Sutono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help