Surya/

Persona

Nimaz Zein : Barang Jualan Makin Laris Saat Dipakai Sendiri

Sempat gagal menawarkan produk jaket dan kaos lewat media sosial, Nimaz akhirnya memakai sendiri barang-barang itu. Tak disangka, malah laris manis!

Nimaz Zein : Barang Jualan Makin Laris Saat Dipakai Sendiri
Surabaya.tribunnews.com/Achmad Pramudito
Nimaz Zein 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tak menguasai ilmu berdagang tak membuat Nimaz Zein berdiam diri. Rasa ingin tahunya yang besar membuat Nimaz nekad berusaha menjual produk jaket dan kaos milik temannya lewat media sosial (medsos) miliknya.

Namun, upayanya itu sia-sia. Setelah beberapa lama dipajang barang tersebut tak juga ada yang menawar.
Tak ingin putus asa, Nimaz lalu memakai jaket dan kaos itu kemudian membuat fotonya. Hasilnya kembali dia pajang di medsos.

Tak diduga. Strategi ini justru jitu. Dalam waktu seminggu produk jaket dan kaos yang dia ambil dari temannya itu langsung ludes.

“Ternyata lebih kelihatan reaksinya setelah saya pakai sendiri,” kata Nimaz yang belakangan menggeluti profesi sebagai penata rambut.

Mengenai profesi barunya itu, Nimaz menyatakan bahwa dirinya memang sejak lama ingin jadi penata rambut. Namun, ketika kesempatan itu datang ternyata yang terjadi justru membuatnya grogi.

“Ketika pertama potong rambut orang, gunting yang saya pegang beberapa kali jatuh,” katanya kepada Surya, Minggu (13/8/2017).

Ditemui di tengah acara photo contest di Lambe Toerah Culinary Kekinian, Nimaz mengaku tak bisa menutupi rasa khawatir yang menyerang dirinya.

“Potong rambut perempuan itu nggak mudah. Salah sedikit saja bisa bikin komposisi rambut nggak seimbang dan tentu hasilnya terlihat jelek,” tandasnya.

Kalau sudah salah potong, lanjut Nimaz, kondisi rambut tentu tak bisa dikembalikan ke asalnya. “Lebih parah lagi kalau ketemu orang yang cerewet. Malah bikin bingung,” tutur gadis kelahiran Surabaya, 6 Juli 1995 ini.

Ketrampilan menata rambut atau hair dresser, menurut Nimaz, sangat berbeda dengan dunia model yang sudah ditekuni sejak masih di bangkut SMA Hangtuah Surabaya. “Kita harus selalu update gaya rambut tren agar tidak tertinggal ketika mengaplikasikan ke klien,” tegasnya.

Pemilik tinggi 171 cm dan berat 51 kg ini menambahkan, pekerjaan sebagai hair dresser itu seperti seorang seniman. “Karena kita bikin orang jadi lebih menarik. Untuk itu kita harus rajin menggali inspirasi, khususnya ketika melakukan coloring,” bebernya.

untuk memperdalam ilmu sebagai penata rambut, Nimaz belakangan rajin ikutan workshop. “Saya bersyukur sudah dapat sertifikat untuk pewarnaan rambut,” ungkap penggemar menu mie dan seafood ini.

Menyadari pekerjaannya sebagai model tak berlangsung lama itu pula yang membuat Nimaz getol mencari ilmu terkait hair dresser. “Satu saat saya harus memilih salah satu, dan tentu saya akan fokus sebagai hair dresser. Saya akan meneruskan usaha mama buka salon,” imbuhnya. 

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help