Surya/

Citizen Reporter

Mengurai Benang Kusut Kebhinekaan

.. keberagaman adalah keniscayaan, bukan untuk diratapi tetapi untuk disyukuri .. betapa beruntungnya hidup di Indonesia itu ...

Mengurai Benang Kusut Kebhinekaan
flickr
ilustrasi 

Reportase Akhmad Kanzul Fikri
Dosen Universitas Wachid Hasyim/Direktur PP Al-Aqobah Jombang

MENGHADAPI gelombang isu SARA yang kian menghangat akhir-akhir ini, dibutuhkan dialog kebangsaan yang melibatkan semua pihak dan elemen bangsa untuk merajut kembali makna dan hakikat kebhinnekaan.

Di mana semua pihak wajib mengedepankan sikap toleransi, tenggang rasa, dan sifat pluralisme. Untuk itulah bertempat di Spazio, Surabaya, Sabtu (5/8/2017), dialog kebangsaan dihelat dengan melibatkan pelbagai unsur.

Pematerinya pun dari beragam latar belakang. Ada Prof Sumanto Al Qurtuby (antropolog), Pdt Crystia Andre (GKJW Batu), Prof Masdar Hilmy (UIN Sunan Ampel Surabaya), dan Prof Henry Subiakto (staf ahli Menkominfo).

Kebhinnekaan terancam pudar karena isu SARA yang dihembuskan berita hoax dan situs abal-abal untuk kepentingan tertentu yang diakui Prof Henry Subiakto, jumlahnya sangat masif dan tak terbendung.

Hal ini pula yang membuat negara bisa menjadi kolaps dan terjadi perang horizontal karena isu murahan yang dihembuskan pihak tak bertanggung jawab.

Tak salah jika pemerintah memblokir aplikasi Telegram yang nyatanya dimanfaatkan teroris dan memperketat kegiatan bersosial media warganya dengan UU ITE.

Generasi milenial, tumbuh dan bersinggungan langsung dengan gawai, harus cermat dan cerdas memilah berita, serta tak mudah terprovokasi dengan berita palsu dan konten negatif lainnya, baik berita yang telah diedit, diganti judul, atau bahkan diganti tanggal beritanya.

Itulah mengapa, setiap berita yang diterima harus dicek kebenarannya, memfilternya, mempertimbangkannya apakah pantas dibagi atau tidak karena berita yang menurut kita benar, belum tentu dianggap baik oleh pihak lain.

Untuk memperkuat dialog kebangsaan, Prof Sumanto Al Qurtuby, yang malang melintang menjadi dosen dan peneliti kajian budaya di berbagai negara (USA, Saudi, Singapura dsb), menandaskan, masyarakat memang gampang tertipu oleh penampilan dan simbol budaya dari luar, yang belum tentu cocok untuk ditampilkan di Indonesia.

Salah satu problem besar bangsa ini adalah mengelola keberagaman. Harus disadari, ada pihak yang tak suka keberagaman di negeri ini. Mereka dengan mudah memainkan isu-isu agama dan budaya untuk menunggangi, membelokkan dan memprovokasi nilai kemajemukan yang ada.

Saatnya semua duduk bersama, berbincang, dan berdialog dengan sikap saling menghargai guna mengurai benang kusut problematika bangsa. Patut diingat, keberagaman adalah keniscayaan, ia bukan untuk diratapi, tetapi untuk disyukuri.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help