Surya/

Berita Pendidikan

Menteri PUPR RI Sosialisasi UU Arsitek Di ITS

UU Arsitek baru saja disahkan pada 11 Juli 2017, karena memiliki salah satu program studi Arsitek, ITS menjadi sasaran...

Menteri PUPR RI Sosialisasi UU Arsitek Di ITS
Surya Online/Sulvi Sofiana
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono usai mensosialisasikan Undang-Undang (UU) Arsitek baru saja disahkan pada 11 Juli 2017 di Institut Teknologi 10 Nopember, Sabtu (12/8/2017). 

SURYA.co.id| SURABAYA- Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono mensosialisasikan Undang-Undang (UU) Arsitek baru saja disahkan pada 11 Juli 2017. Karena memiliki salah satu program studi Arsitek, Institut Teknologi 10 Nopember menjadi sasaran untuk sosialisasi UU yang baru diterbitkan tersebut.

Basoeki menjelaskan UU Arsitek merupakan momentum untuk melahirkan arsitek-aristek handal dan berkompeten. Sehingga rancang bangun indonesia sesuai standar kelayakan bangunan. Lahirnya UU juga diharapakan dapat memberikan landasan dan kepastian hukum bagi arsitek dan pengguna jasa arsitek juga masyarakat umum. Tak lupa guna menciptakan sinergi atas pembangunan negara. “Saya berharap sinergitas antar pemangku kepentingan dan UU mampu menjawab kebutuhan masyarakat di dunia rancang bangun,” ungkapnya usai seminar bertajuk UU Arsitek: Menuju Arsitektur Dunia Yang Lebih Baik ini, Sabtu (12/8/2017).

Dikatakan Basuki, arsitektur adalah karya seni, karya budaya yang harus bisa menunjukkan ciri khas suku budaya di Indonesia totalnya 741 suku bangsa. UU arsitek ini menjawab pemasalahan itu. Disinggung mengenai implementasi di lapangan, Basuki menginginkan agar bandara-bandara di Indonesia didesain sesuai karakternya masing-masing.

“Yang tersisa kan hanya di Bukit Tinggi (Bandara Minangkabau) yang arsitekturnya menyerupai rumah gadang. Di Jawa mestinya kan joglo, tapi malah jadi ruko semua,” ungkapnya menyindir.

Peran besar arsitek, beber alumni SMAN 5 Surabaya ini, adalah merenovasi seluruh venue Gelora Bung Karno (GBK) dengan arsitektur yang baik. Mulai dari toilet, mushola, tribun, dan lain-lain akan direnovasi namun tetap meninggalkan atau membiarkan ada heritage-nya. Oleh karenanya, arsitek itu hadir untuk menunjukkan ciri khas bangsa. “UU dan sumber daya manusia (SDM) secara bersamaan perlu dikembangkan untuk bisa bersaing di global,” imbuhnya.

Lebih lanjut Basuki menjelaskan, daya saing infrastruktur Indonesia dalam konteks global sudah berhasil naik dua peringkat di peringkat 60 dunia. Ini membuktikan Indonesia bisa progresif dalam hal pembangunan. “Daya saing yang memenangkan bukan tentang (siapa) besar atau kecil, tapi tentang (siapa) yang cepat atau lambat. Tapi kalau cepat murah tapi jelek tetap aja gak laku,” ungkapnya.

Dalam rangka meningkatkan daya saing, sambung Basuki, maka infrastruktur adalah jawabannya. Untuk menciptakan arsitektur yang berkualitas, kita harus terus meningkatankan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. “Makanya orang-orang PUPR selain kuat, berani dan berjiwa seni, juga harus mempunyai daya improvisasi dan inovasi yang bagus,” tegas Basuki.

Rektor ITS, Prof Joni Hermana mengungkapkan meskipun UU baru saja disahkan, arsitek sudah lebih dulu mengembangkan sisi profesionalnya. Termasuk pula arsitek-arsitek lulusan Arsitektur ITS yang telah berkiprah di berbagai proyek pembangunan. “Dengan UU ini arsitek lebih dilindungi profesinya dan bisa bersaing dengan arsitek di negara lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Joni memaparkan berbagai komitmen ITS, khususnya Arsitektur ITS, untuk meningkatkan arsitektur yang berbasis lingkungan. Misalnya Kampung Improvement Program (KIP) yang berhasil digarap oleh Arsitektur ITS bekerjasama dengan pihak-pihak terkait.

“Harapan saya, UU Arsitek mampu memberikan manfaat dan marwah atas arsitek-arsitek di Indonesia agar mampu berperan dan berkontribusi leih atas pembangunan negara,” ungkap guru besar Teknik Lingkungan ini.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help