Tokoh Jakmania: 5 Persen Hasil Pertandingan untuk Penonton Bisa Kurangi Keributan

"Jika tidak ada suporter maka klub itu tidak berbunyi, tidak ada pendapatan dan sebagainya, untuk itu suporter harus dibina oleh klub."

Tokoh Jakmania: 5 Persen Hasil Pertandingan untuk Penonton Bisa Kurangi Keributan
foto: istimewa/bagus/kemenpora.go.id
Para peserta Jumpa Suporter Sepakbola Indonesia foto berasama Menpora Imam Nahrawi di Wisma Kemenpora Jakarta, Kamis (3/8/2017). 

 SURYA.co.id | JAKARTA - Jumpa Suporter Sepakbola Indonesia, inisiasi dari pemerintah melalui Kemenpora akhirnya di gelar pada Kamis (3/8/2017) siang di Auditorium Wisma Menpora, Senayan, Jakarta.

Sebanyak 53 perwakilan manajemen klub sepakbola liga I dan liga II Indonesia hadir untuk mengikuti beberapa arahan, testimoni dan harapan dari para pemangku kepentingan olahraga yang paling banyak digemari di negeri ini.

Jumpa Suporter Sepakbola Indonesia, inisiasi dari pemerintah melalui Kemenpora akhirnya di gelar pada Kamis (3/8/2017) siang ini di Auditorium Wisma Menpora, Senayan, Jakarta.

Sebanyak 53 perwakilan manajemen klub sepakbola liga I dan liga II Indonesia hadir untuk mengikuti beberapa arahan, testimoni dan harapan dari para pemangku kepentingan olahraga yang paling banyak digemari di negeri in.

Suasana tercipta sudah seperti saat menyaksikan langsung pertandingan sepakbola di dalam stadion, seluruh perwakilan klub dan suporter menyanyikan lagu kebanggaan, mars dan yel-yel serta salam suporter yang menggema dan khas yang melukiskan kebersamaan dan perdamaian meski bermacam-macam warna dan aksesoris serta pernak pernik yang mereka kenakan tetapi tetap damai sepakbola Indonesia.

Salah satu perwakilan pimpinan suporter dari Jakmania (Persija Jakarta) Richard, menyampaikan harapannya agar suporter ini dapat dibina oleh klub.

"Jika tidak ada suporter maka klub itu tidak berbunyi, tidak ada pendapatan dan sebagainya, untuk itu suporter harus dibina oleh klub, jika terjadi gesekan dan ingin adanya perdamaian itu berjalan alami saja," ujarya.

Ia menilai jika PSSI dan aparat keamanan menjalankan regulasinya terkait pertandingan sepakbola dan PSSI menyisihkan 5 persen usai pertandingan untuk suporter maka akan berdampak positif mengurangi keributan.

"Saya mencontohkan, misalnya pendapatan angka dari penjualan tiket jika Persija bermain di Jakarta saja mencapai Rp 2 miliar lebih, bayangkan jika suporter tidak diajak bicara/diskusi terkait pembinaan klubnya dan sebagainya maka banyak akibat buruk yang akan terjadi,' tambahnya.

Hal senada disampaikan sesepuh Aremania yang juga budayawan Anto Baret, ia menilai PSSI harus bersikap tegas sesuai statuta FIFA terkait nyanyian para suporter, spanduk, dan tulisan-tulisan yang rasis.

"Nyanyian dan tulisan dan spanduk yang mengandung rasis itu kan ditayangkan secara langsung melalui media televisi dan disaksikan masyarakat luas baik anak kecil, dewasa dan orang tua untuk dapat diberikan tindakan tegas kepada klub terkait karena meracuni generasi muda bangsa Indonesia," ujarnya.

Ia menilai jika PSSI melakukan sesuai dengan statuta FIFA maka selesai permasalahan, karena jika tidak maka hal itu tidak sesuai dengan cita-cita berdirinya PSSI sejak 87 tahun lalu.

"PSSI didirikan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa melalui sepakbola, tolong jangan hanya suporter yang disalahkan kenapa tidak pernah ada sanksi tegas, suporter menonton sepakbola membayar pajak tiket itu dilindungi Undang-Undang jangan terus disalahkan," tambahnya.

"Suporter sepakbola menitipkan harapan kepada pemangku sepakbola Indonesia karena sekaranglah saatnya kita menghentikan bentrokan saatnya kita mengubur kebencian diatas cinta dan kasih sayang marilah kita bergandeng tangan supaya semua pemangku sepakbola mampu menegakkan tugas dan fungsinya secara nyata," tuturnya. (ben)

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved