Surya/

Lifestyle

Sylvi Tunggu Michelle Raih Gelar ARAD untuk Pentas Bareng

“Biasanya menari bareng ramai-ramai seperti di Firebird atau Shrek itu,” kata Sylvi Panggawean ST ARAD RAD (TC), pengelola Premiere School of Balet.

Sylvi Tunggu Michelle Raih Gelar ARAD untuk Pentas Bareng
surya/ahmad pramudito
Sebanyak 125 murid Premiere School of Balet mulai anak-anak usia 3,5 tahun hingga 40 tahun memeriahkan pentas ke-9 yang diberi tajuk ‘Shrek’ di gedung Cak Durasim, Jumat (28/7/2017) malam. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Setelah melalui persiapan cukup panjang, 125 orang murid Premiere School of Balet bisa membuktikan profesionalitas mereka lewat pergelaran diberi tajuk ‘Shrek’.

Selama 80 menit penonton yang memenuhi gedung Cak Durasim Surabaya itu dibuat terpaku di tempat duduk hingga pentas berakhir menjelang pukul 21.30, Jumat (28/7/2017).

Pertunjukan ke-9 Premiere School of Balet ini juga menjadi panggung pertama duet antara ibu-anak, Sylvi Panggawean dan Michelle Wiradinata ARAD. Kebersamaan Sylvi dengan anak sulungnya itu menjadi pembuka lewat tampilan yang diiringi komposisi lagu lawas, My Way.

“Biasanya menari bareng ramai-ramai seperti di Firebird atau Shrek itu,” kata Sylvi Panggawean ST ARAD RAD (TC), pengelola Premiere School of Balet.

Pementasan tersebut memang sudah diangankan oleh Sylvi. “Saya memang tunggu sampai dia punya gelar ARAD (Associate of Royal Academy of Dance, gelar bagi penari balet di level tertentu),” imbuh Sylvi.

Menurut Sylvi, di tengah kesibukan masing-masing keduanya mencoba melakukan latihan bersama.
“Tapi, kalau belum bisa ketemu untuk latihan bareng, kami lakukan latihan sendiri-sendiri,” paparnya.

Salah satu tampilan murid Premiere School of Balet.
Salah satu tampilan murid Premiere School of Balet. (surya/ahmad pramudito)

Dua nomor tarian lainnya yang disajikan pada pementasan malam itu adalah ‘Firebird’ dan ‘Shrek’. Pada pertunjukan ‘Shrek’ penonton sering dibuat tertawa oleh gerakan penari cilik lewat gerakan tari mereka di panggung.

“Gerakan mereka yang berusaha mengikuti alur cerita jadi lucu, sebab kadang kelihatan bengong gara-gara lupa gerakan yang harus dilakukan,” ucap Winiarsih, salah seorang penonton yang duduk di bangku tengah.
Usia pendukung cerita ‘Shrek’ memang beragam, mulai 3,5 tahun sampai 40 tahun. Itu pula yang membuat para koreografer harus kerja keras agar seluruh penari bisa menyesuaikan diri di karakter masing-masing.

Selain gerakan solo, masing-masing penari juga dituntut bisa menyeimbangkan gerakan dengan lawan mainnya.

“Jadi tak cuma gerakan hafalan. Penari harus bisa menghayati setiap gerakan yang dilakukan supaya ceritanya tampil hidup,” ungkap Sylvi.

Yang juga tak mudah adalah mengatur jadwal latihan seluruh anggota secara bersama-sama.

“Ini juga jadi PR (pekerjaan rumah) tersendiri, sebab banyak (murid) yang full day school,” tandasnya.

Sebagai pengelola sekolah balet sekaligus koreografer, Sylvi perlu pendekatan psikologis agar seluruh muridnya bisa menjalani latihan dengan nyaman.

“Mereka pulang sekolah sudah dalam kondisi capek, kalau dipaksa tentu ekspresinya jadi nggak bagus,” imbuh sarjana Teknik Kimian dari UPN Surabaya ini.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help