Single Focus

Komunitas 'Pejalan Kaki' Perjaka Delima: Agar Tak Monoton Jajal Pedestrian di Luar Kompleks

“Dulu saya nggak bisa makan kepiting. Kalau makan kambing pun suka pusing. Sekarang semua jenis makanan tidak ada pantangan.”

Komunitas 'Pejalan Kaki' Perjaka Delima: Agar Tak Monoton Jajal Pedestrian di Luar Kompleks
surya/dodo Hawe
Komunitas 'Pejalan Kaki' Perjaka Delima ruitn berjalan kaki sekitar lima kilometer di pedestrian kompleks perumahan mereka. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Mau sehat? Tak perlu olahraga berat. Cukup jalan kaki setiap hari, dijamin jauh dari penyakit. Ini bukan sekadar slogan kosong.

Suryani sudah membuktikan. Pria yang sekitar 10 tahun lalu menderita kelebihan kadar gula, sekarang bisa bebas makan segala jenis makanan.

“Dulu saya nggak bisa makan kepiting. Kalau makan kambing pun suka pusing. Sekarang semua jenis makanan tidak ada pantangan,” tegas Surya.co.id, begitu dia akrab disapa, Selasa (25/7/2017).

Setiap pagi, Surya.co.id bersama sang istri berkeliling kompleks rumahnya di kawasan Pondok Chandra Indah, Sidoarjo.

Tak jarang pula, mereka mencoba menelusuri pedestrian di kawasan Surabaya sebagai variasi agar tidak monoton.

Komunitas ini sangat mengapresiasi keberadaan pedestrian yang nyaman buat para pejalan kaki, seperti yang biasa mereka lakukan setiap hari.

Tetapi, jalan di pedestrian sering tidak nyaman karena pedestrian atau trotoar ini malah sering digunakan parkir kendaraan atau dilalui sepeda motor yang ingin jalan pintas. Karena itu mereka pilih berjalan kaki di pedestrian di kawasan perumahan.

“Kalau di lingkungan perumahan gampang, hitungannya sudah ketahuan, sekali putaran itu 1 km. Jadi kalau kami sampai lima kali putaran, berarti sudah berjalan 5 km,” cetus Dodo HW, anggota komunitas Perjaka Delima lainnya.

Nama ini adalah singkatan dari Persatuan Pejalan Kaki Delima.

“Karena anggota rata-rata tinggal di kawasan Jl Delima,” papar Dodo.

Bentuk Wadah
Semula, warga di Pondok Chandra Indah melakukan olahraga jalan kaki secara sporadis, sendiri-sendiri. Karena sering bertemu di tengah jalan, mereka lalu menggagas dibentuknya sebuah wadah bagi mereka yang punya aktivitas sama setiap pagi hari itu.

Kini, anggota Perjaka Delima sekitar 50 orang. Agar terlihat seragam dan menarik, maka komunitas ini memakai kaos dengan warna sama setiap harinya.

Tiap hari, warna kaos yang dipakai berbeda-beda. Misalnya, pada hari Senin pakai kaos warna putih, Selasa pakai warna merah, Rabu memakai biru, dan Kamis pakai hitam.

Komunitas yang sudah berdiri sejak 10 tahun lalu itu, kemudian memberlakukan iuran Rp 20.000 setiap bulan.

“Kalau sudah terkumpul kami gunakan untuk beli makanan atau snack saat silaturahmi. Atau juga dipakai buat rekreasi bareng-bareng,” imbuh Surya.co.id yang pengusaha bengkel mobil ini. (achmad pramudito)

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help