Surya/

Berita Ekonomi Bisnis

PLN Janjikan 5 Desa di Jatim Teraliri Listrik Tahun ini, 14 Desa Lainnya Tahun Depan

"Untuk dua desa di Bondowoso sudah kami selesaikan pada 20 Juni 2017 lalu. Tiga desa lainnya, sedang proses ditargetkan rampung Oktober - November."

PLN Janjikan 5 Desa di Jatim Teraliri Listrik Tahun ini, 14 Desa Lainnya Tahun Depan
surya/sri handi lestari
Dwi Kusnanto, General Manager PLN Distribusi Jatim memaparkan rencana peningkatan rasio elektrifikasi dalam MSF 2017 di Surabaya, Rabu (26/7/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur di tahun 2017 ini, memiliki program penyaluran listrik di lima desa di Jatim. Kelima desa tersebut, Desa Bancamara dan Desa Banras di Pulau Gili Iyang, Desa Jangkong di Kabupaten Sumenep, dan Desa Jirek Mas serta Desa Penang, di Kabupaten Bondowoso.

"Untuk dua desa di Kabupaten Bondowoso, sudah kami selesaikan pada 20 Juni 2017 lalu. Tiga desa lainnya, sedang proses dan ditargetkan Oktober - November 2017 sudah selesai," jelas Wisnu Yulianto, Manager Komunikasi Hukum dan Administrasi PT PLN Distribusi di sela kegiatan Multi Stakeholders Forum (MSF) di Dyandra Convention Center, Surabaya, Rabu (26/7/2017).

Lebih lanjut, Wisnu menyebutkan, setelah lima desa itu, teraliri listrik selama 24 jam, maka rasio elektrifikasi di wilayah Jatim bisa mencapai 99,68 persen.

Sementara di tahun 2018, ada 14 desa lain yang masuk sebagai program pengaliran listrik untuk 24 jam.

"14 desa untuk tahun 2018 itu, merupakan desa-desa yang ada di kepulauan di wilayah Kabupaten Sumenep. Yaitu Pulau Kangean ada 10 desa, Pulau Raas ada dua desa, dan Pulau Sepanjang, ada dua desa," jelas Wisnu.

Program peningkatan rasio elektrifikasi di tahun 2018 itu, masih belum bisa mencapai 100 persen. Masih sekitar 99,74 persen. Baru di tahun 2019, bisa mencapai 100 persen, setelah delapan desa di kepulauan, dilayani aliran listrik.

"Memang jumlahnya tidak banyak, terutama dalam hal luas wilayah. Tapi kondisi wilayah yang berada di kepulauan, dan jauh dari daratan, membuat proses konstruksi pengadaan perlu waktu dan biaya yang tidak kecil. Sehingga perlu tiga tahun, untuk menyesuaikan dengan waktu pelaksanaan, bahan baku, dan pembiayaan," ungkap Wisnu.

Selanjutnya, dengan melakukan MSF 2017, PLN berharap ada dukungan terkait untuk mencapai target tersebut. Terutama dukungan pemerintah daerah terkait proses perizinan, pengadaan lahan, dan proses pembangunan.

Wisnu menyebutkan, beberapa kendala yang menghambat target elektrifikasi di Jatim salah satunya adalah letak geografis sejumlah desa yang sangat sulit dijangkau, sehingga butuh tenaga ekstra agar mampu memasang tiang pancang listik.

"Seperti pemasangan tiang listrik yang kami lakukan di salah satu desa Bondowoso, letak desanya yang sulit dijangkau membuat kami harus kerja ekstra, ditambah dengan posisi tanah yang tidak datar," katanya.

Meski demikian, PLN Jatim akan tetap komitmen memberikan tenaga listrik kepada sejumlah desa terpencil, sesuai program pemerintah agar terjadi pemerataan pembangunan.

Terkait pertemuan MSF, Pinto Rahardjo, Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jatim, menambahkan, pertemuan ini merupakan upaya untuk mendistribusikan sejumlah informasi terkait pengembangan pembangunan infrastruktur kelistrikan dan pelayanan kelistrikan terkini, khususnya di Jatim.

"Dengan kegiatan ini, juga menjadi cara yang dipilih PLN untuk membangun keterbukaan informasi, transparansi dan integritas," jelas Pinto.

Adanya pertemuan dengan pemegang kebijakan dapat ditumbuhkan keselarasan pemahaman tentang isu kelistrikan terkini, sehingga akan ada terobosan untuk meningkatkan pelayanan serta usaha untuk menerangi Jatim.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help