Kajari Surabaya Sebut Berkas Henry J Gunawan Belum P21

Berkas perkara dugaan penipuan dan penggelapan dengan tersangka bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Henry J Gunawan masih belum dinyatakan sempurna (P21).

Kajari Surabaya Sebut Berkas Henry J Gunawan Belum P21
surabaya.tribunnews.com/Anas Miftakhudin
Kajari Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi SH 

SURYA.co.id | SURABAYA - Berkas perkara dugaan penipuan dan penggelapan dengan tersangka bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Henry J Gunawan masih belum dinyatakan sempurna (P21) oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.

Kajari Surabaya Didik Farkhan Alisyahdi SH, menjelaskan berkas atas nama tersangka Henry J Gunawan masih dalam penelitian jaksa yang menangani.

"Berkasnya belum P21," tutur Didik saat dikonfirmasi Surya.

Dalam penanganan sebuah perkara, ia mengaku tidak gegabah untuk menerima berkas, sehingga perlu kejelian dan ketelitian untuk meneliti sebuah berkas yang dilimpahkan penyidik dalam hal ini Polrestabes Surabaya.

"Berkasnya masih diteliti. Ini dilakukan karena menyangkut nama baik, harga diri pada setiap orang. Ini kami lakukan pada semua perkara yang masuk ke Kejari Surabaya," tandasnya.

Kabar yang berkembang, penyidik Polrestabes Surabaya sudah memenuhi petunjuk jaksa peneliti dari Kejari Surabaya. Bahkan berkas tersebut sudah selesai diteliti oleh jaksa peneliti. Namun sampai saat ini, berkas perkara yang dikirim penyidik belum dinyatakan sempurna, sehingga perkara ini masih belum siap menuju meja hijau.

Perkara tersebut mencuat setelah Notaris Caroline melaporkan Henry ke Polrestabes Surabaya. Dari laporan itu, Henry J Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik atas kasus penipuan dan penggelapan. Kejari Surabaya juga menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari penyidik Polrestabes Surabaya.

Kasus yang menjerat Henry berawal saat notaris Caroline mempunyai klien yang melakukan jual beli tanah dengan Henry sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban yang seharusnya menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB) ternyata tidak terwujud.

Saat korban ingin mengambil haknya, Henry justru mengaku bahwa SHGB di tangan notaris Caroline. Namun setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB itu sudah diambil oleh seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry.

Kabarnya, SHGB itu dijual lagi ke orang lain oleh Henry dengan harga Rp 10 miliar.

Atas perbuatannya, notaris Caroline akhirnya melaporkan Henry ke Polrestabes Surabaya. Setelah melakukan sejumlah penyelidikan, penyidik menetapkan Henry sebagai tersangka dalam kasus ini.

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help