Surya/

Berita Surabaya

Menristek Bicara Riset Kualitatif dan Langkah Risma Bubarkan Lokalisasi Dolly

Risma, kata dia, tidak serta merta menutup lokalisai tapi melalui serangkaian penelitian baru mengambil keputusan.

Menristek Bicara Riset Kualitatif dan Langkah Risma Bubarkan Lokalisasi Dolly
sugiharto
Menristek, M Nasir mengangkat tanganya usai dikenakan Jas Almamater Universitas 17 Agustus Surabaya usai membuka konggres Iqra & seminar nasional Penelitian Kualitatif, Sabtu (15/7/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penelitian Kualitatif merupakan penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Selama ini analisa dilakukan hanya pada sekelompok orang, sehingga belum cukup mewakili permasalahan yang ada.

Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir mengungkapkan penelitian atau riset sangat terbuka. Bahkan penelitian kualitatif bisa mewakili aspek-aspek teori yang selama ini justru tidak sesuai dengan di lapangan.

“Penelitian kualitatif sangat bermanfaat, harus dilakukan sampling lebih dari satu kelompok. Karena belum tentu masalah kelompok satu dan lainnya sama,” jelasnya usai Kongres IQRA dan Seminar Nasional Penelitian Kualitatif di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Sabtu (15/7/2017).

Nasir mengatakan, selama ini sering terjadi penelitian yang tidak sinkron. Dalam teori, lanjut dia, ada yang ekstrim dan ada yang tidak, namun menurutnya, hal tersebut tidak ada di dalam kehidupan.

"Penelitian-penelitian kualitatif semakin berkembang. Dalam dunia arsitektur juga penelitian kualitatif berkembang. Dulu diharapkan penelitian sekelompok orang bisa menggenalisir semua orang tapi sekarang tidak bisa begitu," tutur Nasir.

Dia mencontohkan, masalah itu terjadi waktu penutupan Lokalisasi Dolly oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Risma, kata dia, tidak serta merta menutup lokalisai tapi melalui serangkaian penelitian baru mengambil keputusan.

"Jadi penelitian harus kembali ke masyarakat. Ini harus saya kembangkan betul, jangan sampai ini muncul eksklusif tapi harus menjadi simbiosis," tuturnya.

Sekretaris Panitia acara Prihantari Satvikadewi mengatakan, ide seminar ini muncul dilatarbelakangi para guru besar yang ini membantu pemerintah berkontribusi dalam melawan radikalisme.

"Para guru besar ingin berbuat sesuai kapasitas mereka untuk mempertahankan NKRI,"ungkapnya.

Dikatakannya, para guru besar mempertanyakan, apakah penelitian mereka itu hanya untuk formalitas saja tanpa tahu untuk apa atau sudah ada manfaatnya bagi masyarakat.

"Intinya melalui kegiatan ini para guru besar ingin berkontribusi lebih nyata untuk negara melalui penelitian-penelitiannya," pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help