Surya/

Citizen Reporter

Jika Kupat maka Janur

idealnya usai puasa Ramadan, laku setiap orang akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya dengan nyopoan, enthengan, dan loman ...

Jika Kupat maka Janur
iStock
ilustrasi 

Reportase Mulyanto
Staf Guru di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya

KETUPAT atau kupat saat Idul Fitri dalam filosofi Jawa menyiratkan jika kupat -dari laku papat- atau mengerjakan empat hal seusai puasa Ramadan, maka janur atau sejatine nur (cahaya Illahi) akan didapatkan. 

Demikian inti ceramah Ustad H Nur Cholis Huda MSi, Wakil ketua PWM Jatim dalam silaturrahim keluarga besar guru dan karyawan SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, di aula TMB, Ahad (9/7/2017).

Apa laku papat itu? Pertama lebbar bermakna tak punya utang puasa. Kedua lebbur, artinya melebur semua yang jelek-jelek dan memaafkan dengan ikhlas.

"Melebur sifat mangkelan, ngamukan, dendaman, dan lainnya," tukas pria asli Gresik seraya mencontohkan melebur dendam ala Buya Hamka.

Buya yang teladan memaafkan mereka yang pernah mendholiminya.

Di antaranya, Bung Karno yang telah memenjarakannya 2,4 tahun tanpa pengadilan. Memaafkan Muhammad Yamin yang menjelek-jelekannya, dan Pramudya Ananta Tur, yang meneror lewat tulisan.

Laku papat yang ketiga yaitu luber, orang yang luber kebaikannya, selalu baik kepada orang lain, khususnya yang terdekat dengannya.

"Usai puasa harus meningkat baiknya, semakin loman kepada istri dan anak supaya keluarga tenteram. Pokoknya kalau ikhlas pasti ada saja rejeki dari Allah. Kebaikan dibalas berlipat-lipat ganda," katanya.

Terakhir, labur. Usai puasa wajahnya harus cerah berseri. "Bonus puasa dari Allah yaitu Allah memberikan jalan keluar dari setiap masalah, Allah memberi rejeki dari sumber yang tak diduga: harta, kesehatan, ketenteraman, dan Allah permudah segala urusan. Jadi kalau usai puasa hidupnya semakin semrawut, berarti ada yang salah dari puasanya," tandasnya.

Nur Cholid Huda menambahkan, mereka yang baik memiliki tanda suka melakukan tiga an, yakni nyopoan (suka menyapa); entengan (mudah menolong); dan loman (suka memberi).

Sebaliknya mereka yang tak baik juga suka melakukan tiga an, yaitu njalukan (meminta-minta); ngamukan (marah-marah); dan mbujukan (berbohong).

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help