Surya/

Citizen Reporter

Arung Wardana dan Jawaban untuk yang Setengah Gila

ia berubah menjadi setengah gila, kerap bersikap curiga pada orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.. semua gegara pengkhianatan asmara perempuan..

Arung Wardana dan Jawaban untuk yang Setengah Gila
pixabay
ilustrasi 

Reportase Moch Nurfahrul Lukmanul Khakim
Dosen Sejarah di Universitas Negeri Malang

SORE yang cerah, Arung Wardana Elhafifie sudah datang ke kampus Universitas Negeri Malang (UM). Mengendarai motor sendiri, pekerja seni dan penulis produktif yang mewakili Indonesia di Interntional Ubud Festival Writers & Readers 2016 di Bali iru berangkat dari Bangkalan, Madura. 

Saat ini Arung menimba ilmu teater di institut seni swasta di Surabaya setelah drop out sebagai mahasiswa psikologi. Hidup Arung memang penuh dengan drama dan pertanyaan yang tak terjawab.

Ia berusaha menemukan jawabannya dengan berkarya melalui teater dan sastra. Lewat tulisan Arung sudah menulis empat novel. Di dunia teater, pemilik nama asli Hoirul Hafifi ini juga telah menulis drama dan monolog serta mementaskannya di sejumlah kota di Indonesia.

Dalam novel Gidher (bahasa Madura) artinya setengah gila, Arung melihat semua orang di sekitarnya setengah gila. Orang-orang itu memaksa orang lain melakukan hal benar tetapi pada saat yang sama, mereka juga melakukan keburukan dengan sukarela.

Seorang lelaki jadi gila karena cintanya dikhianati perempuan yang berprofesi sebagai penari tradisional Madura. Perempuan ini lebih memilih lelaki lain yang kaya dan berstatus sosial tinggi padahal kekasihnya sudah mengorbankan apa saja untuk bisa menikahinya. Lelaki korban asmara itu meracau dan mengutuk siapa saja karena sudah kehilangan harapan pada dunia.

Karya-karya Arung lebih banyak mengangkat permasalah etnografi di Madura. Dan diskusi novel Gidher di UKM Penulis UM berlangsung hangat dan seru, Sabtu (8/7/2017) lalu. Belasan peserta diskusi asyik menyimak dan bertanya langsung mengenai karya terbaru Arung.

Kajian serupa sudah berlangsung di berbagai kota di Jawa Timur, mulai dari Bangkalan, Jember, Jombang, dan Surabaya. Arung berharap novelnya bisa membuka mata orang Madura, khususnya perempuan Bangkalan, agar bisa lebih mandiri lewat pendidikan yang lebih baik.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help