Surya/
Home »

Bisnis

» Makro

Berita Ekonomi Bisnis

Pengusaha Akui Ada Kenaikan Tipis Industri Pengolahan di Jatim

"Itu laporan yang kami terima. Salah satunya di industri mebel. Secara nasional turun, sementara dari Jatim naik sekitar 6-7 persen,"jelas Nur Cahyudi

Pengusaha Akui Ada Kenaikan Tipis Industri Pengolahan di Jatim
surya/sri handi lestari
Ekonom dan pakar statistik Surabaya, Kresnayana Yahya, saat memberikan materi dalam kegiatan Forkas. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Hasil survei Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jatim terkait peningkatan pelaku usaha industri di Jawa Timur (Jatim), diakui Nur Cahyudi, Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jawa Timur.

Menurutnya, beberapa industri di semester I tahun 2017 ini ada yang tercatat meningkat. Meski masih tipis.

"Itu laporan yang kami terima. Salah satunya di industri mebel. Secara nasional turun, sementara dari Jatim naik sekitar 6-7 persen," jelas Nur Cahyudi, di sela kegiatan halal bihalal Forkas di Surabaya, Jumat (14/7/2017).

Namun tidak semua industri tumbuh. Ada pula yang turun, seperti di industri sepatu. Juga naik tipis untuk industri garment, namun ada pula yang industri yang gulung tikar di semester I ini.

"Memang pasar masih belum recovery, terutama pasar ekpor. Pasar domestik juga sedang bersaing dengan produk impor, dalam mayoritas produk yang terkait industri. Kami tetap optimis, dengan banyak melakukan pengembangan pasar baru, produk, dan lainnya," tambah Nur Cahyudi.

Dalam kesempatan itu, Kresnayana Yahya, ekonom sekaligus pakar statistik Surabaya, mengakui, persaingan industri di tahun 2017 ini sudah mulai bergeser. Bagaimana saat ini, produk tidak lagi dilihat prosesnya, tapi hasilnya.

"Seperti saat Lebaran tahun ini, industri retail mengeluh. Karena Lebaran bersamaan dengan liburan sekolah, masa pendaftaran baru. Selain itu, proses penjualan yang sudah berbeda," kata Kresnayana.

Misalnya, usaha biskuit kalengan, yang biasanya mengalami peningkatan tinggi di masa Lebaran, kini sudah berkurang.

Menurut pengamatan Kresnayana, karena kalah dengan industri rumahan, yang saat ini penjualannya semakin agresif lewat media sosial.

"Lewat media sosial yang mudah diakses dari smartphone. Kemudian gambarnya bagus, selalu ada yang baru, memikat. Beli, juga diantar. Sehingga konsumen lebih tertarik. Sementara produk lama, ya itu2 saja, harganya semakin mahal, harus antri di kasirnya toko swalayan atau toko modern," ungkap Kresnayana.

Industri saat ini harus lebih memikat. Di tengah persaingan yang ketat, terobosan soal produk, penjualan, harus lebih maju lagi. Pasar yang jenuh juga harus pindah pasar baru.

"Juga SDM (Sumber Daya Manusia) dan peralatan. Industri mayoritas sudah berjalan 30 tahun. Harus segera melakukan re alat produksi. Secara bertahap kalau tidak bisa langsung. SDM, juga jangan pelit keluarkan investasi biaya pelatihan dan pengembangan SDM," ungkapnya.

Apalagi semester II tahun 2017 ini, diprediksi ekonomi membaik. Banyak peluang yang harus dimanfaatkan. Salah satunya adalah stabilitas ekonomi di pasar Eropa. Juga langkah "proteksi" Presiden Amerika Serikat, Trumph, yang kurang mendapat respon dari negara-negara lain.

"Tak hanya itu, pasar domestik juga tumbuh. Ini juga peluang," tandas Kresnayana.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help