Surya/

Citizen Reporter

Menenun Kisah cara Pentigraf, Dijamin Cocok untuk Semua Kalangan

saat antre di bank atau menunggu kekasih belanja di mal, manfaatkan dengan menulis kisah diri sendiri sepanjang 3 paragraf atau pentigraf ..

Menenun Kisah cara Pentigraf, Dijamin Cocok untuk Semua Kalangan
pixabay
ilustrasi 

Reportase Ardi Wina Saputra
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang

MENULIS merupakan rekreasi paling murah. Motivasi itu yang diletupkan Tengsoe Tjahjono saat membuka workshop penulisan pentigraf di Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang.

Kurang lebih seratus peserta dari berbagai kalangan hadir di workshop dua hari, Sabtu-Minggu (8-9/7/2017) itu.

Romo Albertus Herwanto, O.Carm, Rektor UKWK menyambut baik kegiatan tersebut seraya berpesan agar peserta workshop berani menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan melalui tulisan.

Kerjasama UKWK dan Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias ini memang sengaja mengajak peserta untuk mengenal salah satu genre sastra unik, pentigraf atau cerpen tiga paragraf.

Ternyata dalam menghasilkan cerita, hanya perlu tiga paragraf saja. Pentigraf memang tergolong genre fiksi mini atau sastra singkat.

Penulisan pentigraf sungguh sangat cocok untuk zaman yang serba instan ini. Sekarang masyarakat ingin yang serba cepat dengan teknologi yang luar biasa cepat pula. Pentigraf mampu menjawab kebutuhan itu.

Melalui pentigraf, tak butuh waktu lama bagi seorang pembaca untuk menikmati suatu kisah.

Menulis pentigraf juga bisa dilakukan oleh siapapun, di mana pun, dan kapanpun. Para penulis pentigraf ini cenderung berkarya justru saat mereka sedang berkegiatan. Sambil menunggu antrean di bank, mengisi kejenuhan, istirahat setelah mencuci piring, bahkan sambil menunggu pacar pun bisa.

Eka Budianta, penulis nasional yang hadir dalam workhsop mengatakan, dalam menulis pentigraf, hendaknya penulis membebaskan diri dari belenggu ketakutan untuk menulis.

“Pentigraf yang ditulis dengan sepenuh hati akan menghasilkan etos, pathos, dan logos!” ujar Eka.

Ethos berarti etika, pathos berarti pembangkit perasaan, dan logos berarti kelogisan. Di akhir pertemuan, Eka juga berpesan agar peserta workhsop mau menulis tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali.

Menulis sama halnya seperti menembak. Seorang penembak jitu tidak akan dikatakan sebagai penembak jitu apabila dia puas dengan satu tembakannya saja meski tepat sasaran. Ia akan mencari sasaran lain dan menembak lagi dan lagi.

Menulis pun demikian. Penulis hebat tidak akan menulis satu judul tulisan saja. Ia akan terus menulis untuk menyampaikan pesan pesan kemanusiaan dalam tulisannya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help