Surya/

Berita Surabaya

Izin Dibekukan, Jualan di Pasar Dupak Rukun dan Tanjungsari Jalan Terus

“Nggak ada yang berubah. Kami tetap berjualan seperti biasa. Tidak ada arahan untuk berhenti,"ujar seorang pedagang.

Izin Dibekukan, Jualan di Pasar Dupak Rukun dan Tanjungsari Jalan Terus
surya/fatimatuz zahro
Pedagang pasar Dupak Rukun No 103 masih berjualan dengan grosir seperti biasa, Jumat (14/7/2017). 

SURYA.CO.ID | SURABAYA – Meski Dinas Perdagangan sudah mengeluarkan surat pembekuan izin usaha pengelolaan pasar rakyat (IUP2R) tiga pasar buah yaitu Pasar Tanjungsari No 76, Pasar Tanjungsari No 36, dan Pasar Dupak Rukun No 103, namun nyatanya ketiga pasar tersebut tetap beroperasi normal hari Jumat (14/7/2017).

Para pedagang tetap melayani pembeli yang datang dan menjual barang dagangan mereka dalam jumlah besar. Padahal, yang disoal Pemkot sehingga izin pasar ini sampai dibekukan adalah cara mereka yang mejual barang secara grosir.

Saiful, salah satu pedagang di Pasar Dupak Rukun, tampak sibuk melayani pembelinya. Usai membantu menaikkan sebanyak dua karung salak ke sepeda motor pembeli, ia lalu tampak sibuk menata dagangan jeruk yang baru datang dari pengepul.

“Nggak ada yang berubah. Kami tetap berjualan seperti biasa. Tidak ada arahan untuk berhenti berjualan,” ucap Saiful.

Ia sudah dua tahun lebih berjualan di pasar Dupak Rukun ini. Dan sejak awal berjualan, memang sudah dilakukan dengan cara grosir. Ia tiddak pernah melayani pembeli dalam partai eceran. Saiful melayani pembeli dengan minimal pembelian 20 hingga 40 kilogram.

“Saya memang dengar ada kisruh tentang izin pasar. Tapi menurut saya itu hanya masalah persaingan pasar saja. Yang pasarnya sepi merasa nggak terima,” ucapnya sembari mencibir keluhan pedagang di Pasar Induk Osowilangun Surabaya. Yang menurutnya sebagai akar masalah sampai adanya pembekuan pasar yang ia tempatti.

Lebih lanjut, Saiful menyebutkan sampai saat ini pedagang di pasar Dupak Rukun masih adem ayem. Bahkan dari pengelola pasar belum pernah mengajak biacara tentang permsalahan ini. Sehingga ia mengira bahwa kondisi pasar masih aman-aman saja.

“Selama tidak ada arahan kami tenang saja. Tetap berjualan sebagaimana biasanya,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Khotijah. Ia yang berjualan apel mengaku tidak terima jika pasarnya dibekukan. Selama ini ia turut memantau perkembangan kasus yang terjadi menyoal tempat yang ia tempati berjulan melalui media.

“Kalau mau dibekukan ya bekukan semua. Termasuk pasar PIOS. Kenapa harus tiga pasar saja yang dibekukan sementara PIOS tidak, wong sama-sama milik swasta bukan milik pemerintah,” ujarnya.

Ia justru menyayangkan langkah Pemkot yang membekukan Pasar Dupak Rukun. Terlebih pedagang juga tidak-tahu menahu. Mereka pindah ke sini pun lantaran dulu sempat digusur juga saat berjualan di Peneleh.

Aktivitas normal juga terpantau di Pasar Tanjungsari No 76. Di sana mobil-mobil pick up, dan juga mobil box tampak memadati wilayah dalam pasar. Bongkar muat buah dalam jumlah besar pun masih berlangsung sebagaimana sehari-hari.

“Tetap berjualan seperti biasa. Pengelola tidak ada arahan untuk melarang kami berjualan. Kami akan protes kalau sampai dilarang,” ujar Taufik.

Pedagang grosir untuk buah apel dan pir ini mengaku tidak ada yang salah dalam prosedur berjualan mereka. Saat mula berjualan di sini juga sudah grosir. Justru tiddak menerima jika ada pembeli membeli dalam jumlah kecil.

“Jangan buat resah pedaganglah. Kita semua juga mencari sandang pangan. Tapi bukan dengan cara menjatuhkan,” ucap Taufik.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help