Surya/

Berita Surabaya

Galeri Wistara Batik, Karyawannya Para Difabel, Teguh: Jarang Ada Pengusaha Mau Menerima Kami

"Jangan salah, mereka punya potensi yang tidak semua orang normal punya. Mereka lebih fokus dari anak-anak normal," jalas Ari.

Galeri Wistara Batik, Karyawannya Para Difabel, Teguh: Jarang Ada Pengusaha Mau Menerima Kami
surya/achmad zaimul haq
PANTANG MENYERAH - Teguh Iman Hidayat, karyawan Batik Wistara penyandang tunadaksa berkreasi menjahit baju batik, Jumat (14/7/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Suara mesin jahit di Galeri Wistara Batik Indonesia, Jalan Tambak Medoan Ayu 6C 56 terdengar berpacu cepat, mengikuti pijakan kaki para penjahit. Tak ada suara lain, selain suara mesin jahit yang kadang berhenti untuk siap berpacu kembali. Semua penjahitnya tampak khusyuk menyelesaikan pekerjaannya.

Termasuk Teguh Iman Hidayat (26), salah satu karyawan Batik Wistara. Pemuda difabel, tunadaksa (cacat kedua tangannya) sejak kecil itu. Ia sedang serius dan dengan sabar melipat bagian pinggir kain, untuk menjadi kemeja batik pesanan salah seorang customer Batik Wistara.

Suasana ramai tapi sunyi ini diakui Teguh, ia rasakan setiap hari. Namun itu bukan berarti kehidupannya dipenuhi rasa sedih.

"Selain saya masih ada delapan karyawan lain. Bedanya mereka tunarungu, dan tidak bisa bicara. Karena itu kami jarang komunikasi, hanya memakai bahasa isyarat saja," katanya, Jumat (14/7/2017) sambil membenarkan letak jahitan.

Teguh, pria asal Solo yang tertarik bekerja di Surabaya ini mengaku di setiap kali bekerja dirinya dan teman-teman memilih fokus. Meski begitu sesekali mereka tidak lupa untuk saling tegur, dan beristirahat bersama.

Meski begitu, Teguh tak berhenti bersyukur lantaran masih ada pengusaha di Indonesia yang peduli terhadap teman-teman yang memiliki kondisi seperti dirinnya.

"Jarang ada pengusaha yang bersedia menerima kondisi kami. Beberapa kali saya melamar di perusahaan garmen tapi selalu ditolak. Alasanya karena saya tidak memiliki jari lengkap seperti yang lain," curhat Teguh dengan raut wajah murung.

Tapi hal itu sudah berlalu, sejak kesempatan bergabung di Batik Wistara, dia berkeyakinan mampu maju dan punya pengalaman lebih banyak lagi.

"Bagi para difabel seperti kami, susah mencari pekerjaan. Saya beruntung bisa berkenalan dengan Pak Arie," tambah Teguh lalu tersenyum.

Bukan Hanya Soal Bisnis

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help