Surya/

Berita Surabaya

Dituduh Malapraktik dalam Program Bayi Tabung, begini Tanggapan Dokter Aucky

“Adanya keprihatinan kepada pasien pasutri tersebut, kami kemudian bekerja sama dengan mediator untuk merundingkan masalah pasutri Tommy dan Evelyn."

Dituduh Malapraktik dalam Program Bayi Tabung, begini Tanggapan Dokter Aucky
tribunnews.com
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA – Beberapa waktu lalu, Tomny Han dan Evelyn Saputra, pasutri yang baru saja menjalani program bayi tabung menggugat ahli andrologi di bidang Assisted Reproductive Technology (ART) atau Teknologi Reproduksi Berbantu/bayi tabung, dr Aucky Ginting, PhD Sp And.

Tomy Han dan istrinya telah membayar biaya Rp 47,6 juta untuk program bayi tabung. Mereka berkeinginan untuk memiliki seorang keturunan berkelamin laki-laki.

Pada 28 November 2015, dr Aucky mulai melakukan proses bayi tabung, dengan mengambil preimplantaion embrio normal. Sayangnya bayi yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan dan memiliki sejumlah kelainan bawaan.

Dikonfirmasi SURYA.co.id, dr Aucky yang masih disibukkan dengan tugas akademisnya sebagai penguji mengungkapkan tidak pernah memberikan jaminan pasti tentang jenis kelamin pasien pada program bayi tabung yang ditangani. Termasuk kepada Tommy Han dan Evelyn Soputra yang menginginkan bayi laki-laki.

“Kami selalu memberikan penjelasan dan pernyataan kepada pasien sejak konsultasi hingga ketika hendak menjalankan penanaman embrio pada pasien bayi tabung. Sehingga, adanya kemungkinan mis-diagnosis seperti bayi lahir tidak sesuai jenis kelaminnya yang tidak bisa dihindarkan juga kami sampaikan kepada semua pasien kami,” ungkapnya pada SURYA.co.id, Jumat (16/7/2017).

Pasangan Tommi dan Evelyn, lanjutnya, datang pertama kali ke praktik dr Aucky di RS Siloam pada bulan November 2014 dan ingin program hamil.

Namun, saat itu putri pertamanya masih bayi. Sehingga disarankan untuk penundaan sampai setahun lagi karena ada pertimbangan infertilitas.

“Setelah itu pasutri tersebut masih datang hingga tiga kali setelahnya. Sampai kemudian pada November 2015 (setahun kemudian), pasien memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung dan dalam kesempatan tersebut menyebutkan menginginkan bayi laki-laki. Saya juga menyampaikan akan mengupayakannya dan kemudian saya terangkan resiko program pemilihan bayi tabung dengan teknik preimplantation genetik diagnosis atau screening (PGD/S) yang memiliki kemungkinan meleset atau misdiagnosis bisa mencapai 10-15 persen,” paparnya.

Setelah itu proses dimulai, tim bayi tabung telah memberikan penanaman satu embrio yang terbaik dengan teknik preimplantation genetik diagnosis/ screening (PDG/S) tersebut. Awalnya, hasil PGD/S menunjukkan hasil normal dan kemungkinan laki-laki.

“Tetapi itu bukan sebagai jaminan atau kepastian kelahiran bayi berjenis kelamin sesuai yang diinginkan,” tegasya.

Halaman
123
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help