Liputan Khusus

Transportasi Online Dua Roda: Peluang danTantangan Inovasi Disruptif lokal Terseru Saat ini

Persaingan bisnis transportasi online kian ketat dengan kehadiran pemain-pemain baru. Bagaimana strategi yang tepat untuk menjadi yang terbaik?

Transportasi Online Dua Roda: Peluang danTantangan Inovasi Disruptif lokal Terseru Saat ini
ist
Niko Wiradinata S 

Sungguh sangat menarik saat melihat perkembangan tren bisnis transportasi online roda dua berbasis aplikasi selama 3 tahun terakhir ini. Semakin banyak merek yang bermunculan, mulai dari yang lokal seperti Go-Jek, Blu-Jek, LadyJek, TopJek dsb, maupun yang merek impor dari negara lain seperti Uber Motor & Grab Bike.

Meskipun bisnis transportasi online roda dua berbasis aplikasi ini masih memiliki potensi perkembangan yang sangat menggiurkan, namun tidak banyak pula merek lokal yang bisa bertahan akibat kerasnya persaingan dan perbedaan permodalan.

Apabila kita amati, beberapa merek lokal yang saya sebutkan sudah ada yang tidak lagi beroperasi, setidaknya saat tulisan ini dibuat dapat dilihat website mereka masih down, akun medsos mereka juga sudah lama tidak aktif dan armada drivernya sendiri sudah tidak pernah saya lihat lagi di jalan raya.

Mengapa banyak sekali merek lokal baru yang usianya hanya setahun dua tahun?

Memang ada beberapa faktor yang mungkin bisa dijadikan alasan kalah bersaingnya merek lokal baru dengan yang sudah lama maupun merek yang dari luar negeri, seperti user interface yang kurang enak bagi pengguna, jumlah driver yang tersedia kalah banyak dari pesaing, aplikasi yang error melulu, sampai perbedaan besarnya subsidi yang diberikan perusahaan kepada para driver dan usernya masing-masing.

Di Indonesia saat ini, keunggulan persaingan perusahaan startup masih lebih banyak tergantung kepada besarnya dana subsidi yang berani dan sanggup dikucurkan oleh perusahaan untuk usernya. Akibat masih besarnya ketergantungan loyalitas masyarakat kepada sebuah merek berdasarkan dari keuntungan subsidi yang diterima.

Adapun model bisnis startup tidak dapat dibandingkan secara head on dengan model bisnis konvensional, hal ini terlihat dari fokus utama model bisnis startup yang membidik jumlah user aplikasinya sehingga valuasi nilai perusahaan semakin meningkat dan sahamnya dapat dijual dengan nilai yang jauh lebih besar lagi, berbeda dengan model bisnis konvensional yang masih berupa omzet dikurangi HPP hasilnya adalah laba bersih. Handicap subsidi antara bisnis konvensional dan bisnis startup sangatlah berbeda jauh, karena yang difokuskan juga berbeda.

Pada akhir tahun lalu (2016), Go-Jek dan Grab juga banyak mendapatkan protes dari drivernya masing-masing akibat besarnya perbedaan penghasilan yang diterima driver, lumayan berbeda jauh dari saat pertama Go-Jek dan Grab banyak memberikan subsidi kepada driver.

Lantas bagaimana peluang merek lokal baru untuk dapat bersaing, tumbuh dan survive ditengah persaingan dengan para pemain besar?

Salah satu peluang untuk bertahan dan berkembang adalah memulai dari menguasai market spesifik maupun niche market yang belum sempat terpikirkan ataupun belum difokuskan oleh para pemain besar.

Halaman
123
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved