Surya/
Home »

Bisnis

» Makro

Berita Ekonomi Bisnis

Momen Ramadan dan Lebaran hanya Sumbang Kenaikan 8 Persen Industri Retail

"Bila dikomperansi dengan momen yang sama tahun 2016 lalu, naiknya bisa 15 persen."

Momen Ramadan dan Lebaran hanya Sumbang Kenaikan 8 Persen Industri Retail
surya/sugiharto
Brand Rious terus berupaya memperkuat produknya di pasar ritel.

SURYA.co.id | SURABAYA - Kinerja industri retail di Jawa Timur (Jatim) yang tumbuh negatif sejak awal tahun, hanya mengalami peningkatan kecil di momen Ramadan dan Lebaran 2017 ini.

Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo ) Jatim, April Wahyu Widati, menyebutkan, kedua momen ini hanya menyumbang kenaikan sekitar 7 hingga 8 persen, dibanding bulan-bulan sebelumnya.

"Bila dikomperansi dengan momen yang sama tahun 2016 lalu, naiknya bisa 15 persen. Sementara saat ini hanya naik di kisaran itu dibandingkan bulan berikutnya, bisa dibilang malah turun," jelas April, Senin (10/7/2017).

Lebih lanjut, April menyebutkan, penjualan ritel modern malah terpangkas setengah dibandingkan tahun lalu. Bisa dibilang, saat ini masa-masa sulit untuk industri retail.

"Untuk semua channel mulai dari hypermarket sampai minimarket semua sedang surut. Minimarket ada pertumbuhan tapi lebih disebabkan adanya penambahan outlet. Bukan murni sales,” lanjut April.

Bahkan Lebaran juga tidak berkontribusi sebesar tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, ia mengakui cukup berat bagi pelaku usaha retail untuk mengejar target di tahun ini. Untuk retail berforma hypermarket bahkan mengalami minus.

Jika tahun lalu pada H-7 Lebaran penjualan di hypermarket bisa meningkat hingga 30 persen, tahun ini tidak lagi terjadi. ”Tahun ini slow saja,” ucap April.

Penyebab seretnya penjualan ritel di tahun ini disebutkan April ada beberapa hal. Pertama yaitu bersamaannya Lebaran dengan tahun ajaran baru. Kustomer lebih memprioritaskan untuk membayar biaya sekolah dibandingkan untuk konsumsi.

Yang kedua adalah perubahan pola konsumsi masyarakat itu sendiri. ”Kalau dulunya orang belanja apa yang diinginkan, sekarang tidak lagi. Customer lebih selektif terhadap pembeliannya,” jelas April.

Di semester kedua, peritail hanya memiliki momen Natal yang diharapkan bisa menggenjot penjualan. Meskipun kontribusinya tidak sebesar Lebaran, namun semua format ritel tetap berharap penjualan akan kembali meningkat.

Ketua Aprindo pusat mengakui, penjualan retail pada kuartal pertama tahun ini mengalami penurunan atau underperformance.

Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan industri retail dari bulan ke bulan yang belum tumbuh memuaskan, bahkan minus.

Ketua Umum Aprindo, Roy Mande mengungkapkan, lebih kurang untuk bulan April hanya tumbuh 4,1 persen, namun di Mei turun 3,6 persen.

"Angka tersebut didapat dari 5 format retailer, yakni minimarket, supermaret, hypermarket, departement store dan wholesale atau kulakan. Sedangkan untuk tahun lalu, bulan Mei 2016 tumbuh 11,1 persen," jelas Roy

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help