Surya/

Ngopi Bareng Gus Ipul

Jaminan Kesehatan Inklusif

TULISAN KE-20 GUS IPUL: Untuk mendekatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat, pemerintah Provinsi Jawa Timut membuat program Pos Kesehatan Desa.

Jaminan Kesehatan Inklusif
SURYA
Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) 

Sebisa mungkin kita menghindarkan pasien yang terlantar di Rumah Sakit. Problem tersebut harus dipecahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Antara lain terkait dengan daya tampung Rumah Sakit Rujukan Tersier (RS kelas A milik provinsi).
Penumpukan pasien ini bisa dihindari jika beban pada RS tersier dikurangi, dengan cara melakukan seleksi pada pasien. Sebisa mungkin pasien diberikan pelayanan di RS Sekunder (RS kelas B dan C) dan Puskesmas sebagai rujukan Primer. Namun bukan berarti menghambat masyarakat untuk mendapatkan pelayanan terbaik, melainkan memberikan pelayanan sesuai dengan derajat kebutuhan penyembuhannya.

Berikutnya adalah tentu meningkatkan pelayanan rujukan Primer, yakni Puskesmas. Dari data penelitian Australia Indonesia Partnership for Health Systems Strengthening (AIPHSS), menunjukan hanya 45 % puskesmas yang memiliki kemampuan menangani 144 kasus yang seharusnya dapat ditangani oleh mereka. Hal ini menyebabkan kinerja pelayanan kesehatan primer menjadi keharusan, dengan cara memenuhi tenaga medis dan pendukungnya, meningkatkan fasilitas kesehatan, dan juga memperbaiki stok obat.

Jangkauan pelayanan Puskesmas adalah di tingkat kecamatan, jika kita tinggal di daerah perkotaan maka akan sangat mudah untuk menjangkaunya. Akan berbeda jika kita tinggal di desa yang ada di kawasan pegunungan seperti di Lumajang, atau di kawasan kepulauan seperti di Sangean.

Oleh sebab itu demi terciptanya jaminan kesehatan inklusif, kita berusaha mengantarkan pelayanan kesehatan sampai di tingkat desa, agar masyarakat tidak perlu menempuh perjalanan terlalu jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Untuk mendekatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat, pemerintah Provinsi Jawa Timut membuat program Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Program Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan atau menyediakan pelayanan kesehatan dasar masyarakat desa. Poskesdes dibentuk dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat serta sebagai sarana kesehatan yang merupakan pertemuan antara upaya masyarakat dan dukungan pemerintah.

Pelayanan Poskesdes meliputi upaya promotif, preventif dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terutama bidan dengan melibatkan kader atau tenaga sukarela.
Dengan hadirnya Poskesdes, layanan kesehatan di Jatim semakin baik dan berimbang dengan jumlah penduduk. Saat ini jumlah desa yang ada di Jatim 8.416, layanan kesehatan yang Jatim miliki, 2.277 Puskesmas Pembantu, 960 Puskesmas, dan 3,213.

Kedepan, langkah yang harus dikerjakan untuk meningkat layanan kesehatan antara lain; Meningkatkan fungsi koordinasi pimpinan Dinkes provinsi dan kabupataen/kota. Meningkatkan pelayanan kesehatan di tingkat pelayanan primer berikut dengan penempatan tenaga kesehatan ahli dan terlatih sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan primer. Mengutamakan paradigma pencegahan penyakit daripada kuratif. Tenaga medis dan relawan yang ada di Poskesdes bisa digerakan untuk promosi pencegahan penyakit dari pintu-ke pintu.

Program Sadar Sehat

Program kesehatan yang bersifat preventif diberikan melalui upaya memberikan informasi dan edukasi masyarakat tentang gaya hidup yang sehat. Terlebih lagi melihat tren penyakit yang paling mematikan di Indonesia yang tertinggi diduduki oleh penyakit kardiovaskular. Sebab itu, pemerintah perlu mengintervensi upaya pencegahan penyakit kardiovaskular. Terlebih penyakit ini sebenarnya bukan penyakit menular, sehingga penyebabnya bukan dikarenan bakteri atau virus, melainkan lebih pada pola makan, minum dan gaya hidup.
Merujuk data yang dirilis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, survei dilakukan pada tahun 2014. Penyebab kematian tertinggi atau terbanyak di Indonesia adalah kardiovaskular. Penyuluhan sadar sehat, memberikan edukasi tentang bahaya dari penyakit, serta memberikan informasi terkait tindakan pencegahan. Ketika masyarakat semakin sadar sehat bisa menurunkan risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah.

Pertanyaannya, siapakah yang akan mendukung program tersebut? Saya terinspirasi dengan penggunaan smartphone yang sudah digunakan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Nantinya, Dinkes Provinsi dan kabupaten/kota bisa menggandeng kerjasama dengan provider telekomunikasi untuk aplikasi e-health atau Smarthealth. Beberapa langkah yang diambil adalah menyusun database kondisi kesehatan terbaru semua warga yang akan dibagi dalam kategori rawan, sedang dan aman.

Halaman
123
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help