Surya/

Travel

Serunya Menikmati Jazz Etnik di Tengah Sawah Sambil Nyeruput Kopi Uthek khas Banyuwangi

Ingin seru-seruan malam ini di Banyuwangi? Coba datang ke Desa Banjar di Kecamatan Licin. Sebab ada sajian musik jazz tengah sawah yang dijamin keren!

Serunya Menikmati Jazz Etnik di Tengah Sawah Sambil Nyeruput Kopi Uthek khas  Banyuwangi
surabaya.tribunnews.com/Haorrahman
Penampilan Jazz Patrol Kawitan Temenggungan, di Banjar Festival Sego Lemang lan Kopi Uthek. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI -  Nuansa etnik berpadu dengan musik modern disajikan selama dua hari di tengah sawah desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, yakni Sabtu (8/7/2017) dan Minggu (9/7/2017).

Di sana, musik patrol dengan alat musik bambu khas Banyuwangi, berpadu apik dengan musik jazz. 

Ini merupakan rangkaian dari Banjar Festival Sego Lemeng Lan Kopi Uthek, Banyuwangi. Setelah siang harinya sajian kuliner Sego Lemeng dan Kopi Uthek yang khas Desa Banjar, malam harinya pengunjung disuguhkan pagelaran musik jazz.

"Ini perpaduan unik antara musik jazz dan patrol. Kami ingin suguhkan, bagaimana musik patrol bisa berpadu dengan jazz. Apalagi dinikmati dengan menyeruput kopi uthek yang merupakan khas Desa Banjar," kata MY Bramuda, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Minggu (9/7/2017).

Desa Banjar terkenal dengan sego lemeng. Sementara kopi uthek merupakan kuliner khas Suku Using di Desa itu. Sego lemeng merupakan nasi yang digulung dengan daun pisang lalu diisi dengan cacahan daging ayam dan ikan tuna/ikan asin.

Lalu gulungan nasi itu dimasukkan ke dalam bilah bambu dan dibakar sebelum dimakan. Paduan aroma daun pisang dan bau asap dari pembakaran bambu yang terperangkap di dalam sego lemeng itu menghasilkan citarasa sego lemeng yang khas, gurih dan sedap.

Sedangkan kopi uthek merupakan kopi yang disuguhkan dengan cara berbeda. Dalam setiap cangkir kopi, ada sepotong gula aren (nira) terpisah sebagai pendampingnya. Gula nira tersebut digigit sembari kopi diminum, atau sebaliknya minum kopi dulu lalu menggigit gula aren.

Dalam pentas seni itu, musisi internasional, seperti Nick Wallaki musisi asal Australia, berkolaborasi dengan patrol Gontang Kawean Banjar, dan Musik Etnik Banyuwangi.

Selain itu, juga ada penampilan drummer internasional, Bogie Prasetyo, Barong & Patrol Country Etnik Banyuwangi, serta jazz patrol Kawitan Banyuwangi.

Apalagi artis-artis yang turut serta dalam agenda yang masuk Banyuwangi Festival itu, tidak dibayar. Termasuk musisi internasional. Dengan turut serta di agenda ini mereka sudah cukup senang.

"Ini yang kami bangga, mereka tidak dibayar. Mereka pun menginap di rumah-rumah warga," kata Bramuda.

Eko Rastiko, Ketua Jazz Patrol Kawitan Temenggungan mengatakan, di festival kali ini timnya membawakan lima lagu yang merupakan lagu using periode 70 hingga 80 an.

"Kami membawakan lagu-lagu Using yang yang sudah lama. Kami ingin mengenalkan musik Using yang dulu pernah populer," kata Eko.

Eko ingin menyampaikan pada anak-anak muda Banyuwangi, bahwa dulu pernah ada lagu Banyuwangi yang berkualitas dan enak didengar. 

Penulis: Haorrahman
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help