Surya/

Berita Probolinggo

VIDEO - Indahnya Pesta Tari di Lautan Pasir Gunung Bromo dari Udara

Setelah diminum, para penari ini menyemburkan minyak tanah ke arah tongkat yang sudah menyala. Sontak , wisatawan pun berteriak.

SURYA.co.id | PROBOLINGGO - Hari terakhir pegaleran Eksotika Bromo, Sabtu (8/7/2017) sore di lautan pasir , Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo lebih meriah dibandingkan satu hari sebelumnya.

Jumlah wisatawan yang datang pun juga lebih banyak. Diperkirakan, jumlah wisatawan datang untuk menyaksikan acara yang digelar untuk menyambut ritual masyarakat tengger Yadnya Kasada ini sekitar 2000 orang lebih. 

Di hari terakhir ini, penampilan kesenian dari beberapa daerah lebih atraktif dan berhasil memukau wisatawan yang datang. Hari ini, ada penampilan musik jegogbsuar agung jembrana yang merupakan kesenian khas Bali, Reog Ponorogo, tari Pepe-Pepeka RI Makka yang merupakan kesenian khas daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Tak lupa, ada juga penampilan pentas kidung tengger.

Namun, dari sekian penampil, penampilan kesenian adat khas Gowa yakni Tari Pepe ini berhasil menarik antusias wisatawan. Tari Pepe ini dibawakan lima penari perempuan. Mereka mengenakan pakaian adat khas Gowa. Langkah kaki mereka pasti memasuki arena pentas. Tangan mereka mulai menari di atas hamparan luautan pasir yang luas. Irama kaki dan tangan penari ini pas dengan alunan musik yang mengiringinya.

Wisatawan yang hadir dalam acara ini tampak kagum dengan penampilan tari pepe. Bahkan, wisatawan terkejut saat penari mulai mengambil botol air mineral yang ternyata isinya adalah minyak tanah. Secara kasat mata, cairan yang ada di dalam botol itu tampak seperti air mineral, tapi ternyata itu merupakan minyak tanah. Setelah diminum, para penari ini menyemburkan minyak tanah ke arah tongkat yang sudah menyala. Sontak , wisatawan pun berteriak karena penampilan ini sangat berbahaya.

Api membesar di udara. Sekadar diketahui, tari pepe ini merupakn tari berserjarah. Tari pepe ini disebut sebagai tarian penyebaran agama islam sekitar abad ke - 17 terutama di Kabupaten Gowa yang merupakan gerbang awal masuknya islam. Tari pepe ini sering digunakan dan ditampilkan untuk acara hajatan, nikahan dan sebagainya. Selain itu, tari pepe juga digunakan untuk media pembelajaran sejarah.

Salah satu wisatawan asal Perancis, Ansel Abbrisam Abbasy mengatakan, tari pepe itu merupakan tarian yang sangat indah. Kata dia, kesenian itu merupakan perpaduan gerakan yang indah dan atraktif. "Saya sangat mengapresiasi hal ini. Butuh keberanian ekstra untuk membawakan tarian ini. Ada hal ekstrem yang ditonjolkan dalam tarian ini yakni minum minyak dan berdekatan dengan api besar," katanya.

Wisatawan asal Bandung, Sheryl Amalia, mengaku bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Ia tidak menampik bahwa Indonesia ini sangat kaya akan budaya dan kesenian. Menurutnya, tari pepe ini merupakan salah satu contoh dari sejuta kesenian yang ada di Indonesia. "Buat apa saling menjatuhkan dan bertengkar, indonesia ini kaya. Rugi jika tidak dinikmati. Saya ke Bromo sudah berulang kali, tapi baru kali ini saya menemukan kebahagiaan dan puas. Tidak rugi saya datang ke acara Eksotika Bromo ini," paparnya. 

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help