Surya/

Citizen Reporter

Reuni Mini cara Para Perantau

berbilang tahun mereka tak berkabar, pun tak pernah bersua muka.. tak pelak mudik Lebaran menjadi reuni dadakan cara perantau Madura ini memupus rindu

Reuni Mini cara Para Perantau
rara zarary/citizen reporter
Reuni mini para perantau Madura 

Reportase Rara Zarary
Redaktur tebuireng.online/editor Tri Media Unitri/perantau penulis cerita perjalanan

KALIMAT apa yang bisa mewakili pertemuan beberapa sahabat seperjuangan yang telah bertahun-tahun tidak pernah dipertemukan?

Mereka adalah alumni pesantren di salah satu lembaga besar di Madura yang semenjak lepas MTs (sederajat SMP) telah dipisahkan dengan berbagai alasan yang begitu mengagumkan. Merantau karena belajar, bekerja, mengaji, dan bahkan banyak perjuangan lainnya di luar kota.

Halaman masjid Jamik Sumenep Madura, menjadi saksi pertemuan perdana mereka setalah sekitar 8 tahun tidak pernah ada kabar. Rencana reuni itu berawal dari salah satu alumnus, Wika, yang berdomisili di Jakarta karena karirnya, ia berinisiatif membuat grup whatsapp alumni. Terkumpul beberapa orang saja, namun grup itu seperti telah mewakili bagian dari sejarah perjuangan belajar anggotanya dulu.

Sebulan berkomunikasi lewat grup Whatsapp, akhirnya mereka sepakat meluangkan waktu berjumpa saat mudik ke Madura. Kebetulan mayoritas mereka merantau ke Malang, Jombang, Yogyakarta, Jakarta, Bali, Kalimantan dan lainnya.

Niat pertemuan atau yang biasa disebut reuni tersebut ditanggapi positif oleh semua anggota, meski memang tak semua alumni bisa hadir karena jarak tempuh yang jauh dan tak semua mudik ke Madura.

Selain reuni untuk silaturahmi, Selasa (27/6/2017) itu mereka sengaja bertemu di halaman Masjid Jamik Sumenep untuk mengingat kembali bangunan unik gerbang masjid yang memiliki banyak sejarah. Selain, mencicipi tempat baru yang mulai banyak betebaran di Sumenep, salah satunya Ayoka Cafe.

Reuni sengaja tak bertempat di lembaga yang telah mempertemukan mereka dulu dengan maksud untuk membuka ingatan tentang jalan desa dan kota tanah lahir mereka setelah sama-sama menjadi perantau tahunan di kota orang lain.

Dalam waktu berbeda, Wika, yang datang dari Jakarta mengungkapkan, “rasanya seperti gula, manis banget, aku gak bisa ngungkapin, yang jelas aku kangen banget suasana Mts.”

Di waktu yang sama, Herlin, asal Guluk-Guluk mengungkapkan, bila reuni tersebut membuatnya mengingat beberapa hal yang dia lupa, termasuk wajah teman seperjuangannya.

Begitu pula dengan Afiyatun perantau yang memilih Yogyakarta, Luna yang melanjutkan perjuangan di Malang, dan Indah di Bali, mereka mengungkapkan kebahagiaannya dalam percakapan panjang, “kami tidak tahu bagaimana membahasakannya, jelas ini sangat membahagiakan.”

Mereka sempat menceritakan salah satu perjalanan karir masing-masing. Susah senang di kota perantauan, dan bagaimana kondisi tanah lahir saat mereka harus pulang karena memang wajib pulang kembali untuk menjadikan tanah lahir lebih maju dari sebelumnya.

Pertemuan tak hanya dibalut kebahagiaan karena rindu yang terobati, namun juga esensi dalam menyampaikan pesan tersirat pada sekolah mereka dulu untuk sesegera mungkin mengadakan temu alumni secara besar-besaran agar mereka bisa bertemu dengan teman yang mungkin telah terlupakan, dengan berbagi pengalaman, dan memanfaatkan momen itu untuk berbagi satu dengan lainnya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help