Surya/

Citizen Reporter

Dicari Generasi Penerus Wayang Kulit Indonesia

semua boleh miris dan prihatin dengan nasib wayang kulit Indonesia... adakah generasi berikutnya yang bersedia menyelamatkan wayang kulit?

Dicari Generasi Penerus Wayang Kulit Indonesia
arni nur laila/citizen reporter
Generasi wayang kulit 

Reportase Arni Nur Laila
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang

RUMAH sederhana  itu diapit rumah tetangga dengan jalan setapak di depannya. Sebelum sampai pintu rumah, para tamu akan disuguhi dengan miniatur gunungan wayang Jawa persegi lima di daun pintu.

Begitu memasuki rumah, para punakawan dan kisah mahabarata langsung menyapa dari dinding ruang tamu.

Paro Juni 2017, saat dikunjungi mahasiswa KKN dari Universitas Negeri Malang, Wiji, sang pemilik rumah berkisah banyak ihwal kesukaannya pada wayang sejak 1992. Teras rumah menjadi saksi kreativitas Wiji.

Bapak satu anak ini menggeluti kerajinan wayang kulit atau tata sungging wayang kulit di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Malang. Sempat mengalami masa-masa krisis ekonomi tahun 1997 namun Wiji tak gentar untuk menekuni pelestarian budaya Indonesia.

Perajin wayang kulit sangat jarang ditemui di Malang. Lebih-lebih ukiran halus, apik, serta warna yang sesuai karakter tokoh memiliki daya tarik tersendiri bagi awam penikmat seni perwayangan.

Harga jual wayang kulit Sali asli ini bervariasi dan relatif murah sesuai dengan kerumitan pembuatannya. Satu wayang kulit bisa menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh hari untuk memproduksinya, mulai dari pengolahan kulit sapi hingga finishing.

Wiji berani memprediksi jika nantinya wayang kulit akan susah dicari dan nilai jualnya melambung sangat tinggi.

“Sangat jarang anak muda bersedia melanjutkan pembuatan wayang kulit. Anak saya saja juga tak mau. Anak-anak zaman sekarang maunya yang serba instan sementara pembuatan wayang kulit harus satu per satu dan telaten,” tutur bijak perajin wayang kulit kelahiran Blitar ini.

Kegelisahan Wiji tak berhenti sampai di situ. “Saya sempat miris ketika melihat pergelaran wayang di televisi namun dalang dan sindennya adalah orang-orang luar negeri,” bisik pekerja pabrik kertas Sengguruh itu.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help