Surya/

Citizen Reporter

Dari Sekadar Curhat Jadilah Antologi Puisi Hebat

susah membuat puisi? ah tidak juga ... buktinya siswa SMP At Tibyan di Pasuruan ini baru saja membuat puisi curhat yang langsung dibukukan ...

Dari Sekadar Curhat Jadilah Antologi Puisi Hebat
fuat anggrianto/citizen reporter
Buku antologi puisi curhat 

Reportase Fuat Anggrianto
Guru SMP At-Tibyan Pasuruan

ADA banyak materi pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan dan bakat anak, salah satunya puisi, sebagai media pengembangan kreativitas dan sarana mencurahkan isi hati. 

Itu yang dilakukan pelajar kelas VII SMP At Tibyan Pasuruan. Berkaitan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang awalnya banyak siswa yang kurang mampu, khususnya siswa putra.

Setelah memakai cara sederhana ini mereka terlihat asyik berpuisi. Caranya, mencoba berpikir sejenak dengan tema yang telah ditentukan. Kemudian, menuliskannya secara spontan apa yang terlintas di pikiran.

Langkah selanjutnya melakukan editing jika dirasa pilihan kata kurang puitis. Terakhir, membaca ulang.

Aksi menulis puisi curhat bertema bebas ini membuat siswa yang sehari-hari tinggal di asrama pondok cenderung mengungkapkan rasa rindu dan kangen orangtua dan keluarga.

Ada juga yang mengutarakan ketidaknyamanan berada di asrama, ada puisi religius, dan lainnya.

Keseluruhan puisi curhat ini kemudian dipublikasikan menjadi antologi puisi per kelas. Ada lima judul buku antologi, yaitu Bintang Sahabat Merah Penuh Makna, Paku Tak Habis Pikir, Bunga Mawar untuk Pengurus Pondok, Malaikat dalam Simfoni Hitam, dan Sandal, Kaos Kaki dan Lampu.

Keseluruhan judul diambil dari puisi siswa yang telah disepakati secara bersama. Untuk cover dan layout dikerjakan siswa sendiri.

Dari semula yang merupakan puisi biasa namun setelah dibukukan tampak karya tersebut lebih indah. Berawal dari isi hati jika dijadikan karya akan menjadi keindahan yang dapat mewakili perasaan anak.

Diharapkan dengan kepedulian terhadap karya siswa akan menambah motivasi mereka untuk lebih aktif menulis dan berkreasi sehingga karya mereka tak sekadar menjadi selebaran sampah.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help