Surya/

Perbankan

NPL Rendah, Perbankan Didorong Naikkan Penyaluran Kredit Hingga 12 Persen

Otoritas Jasa Keuangan mendorong perbankan makin agresif menyalurkan kredit. Catatannya, tingkat kredit macetnya harus di bawah lima persen.

NPL Rendah, Perbankan Didorong Naikkan Penyaluran Kredit Hingga 12 Persen
ist
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Di tengah kinerja perbankan yang diprediksi menurun di tahun 2017 ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional VI Jawa Timur mendorong perbankan lebih agresif dalam menyalurkan kreditnya.

Namun dengan catatan, tingkat Non Performance Loan (NPL) atau kredit macetnya di bawah 5 persen. 

"Untuk perbankan dengan NPL di bawah 5 persen, kami dorong untuk kreditnya bisa tumbuh di kisaran 9 persen hingga 12 persen di tahun ini," kata Soekamto, Kepala OJK Kantor Regional IV Jatim, di sela kegiatan halal bihalal OJK bersama stakeholders jasa keuangan di Jatim, Rabu (5/7/2017).

Sementara untuk perbankan dengan NPL di atas 5 persen, Soekamto menyebutkan, pihaknya meminta penyaluran kreditnya bisa mencapai 90 persen dari target kinerjanya.

Kemudian terkait NPL yang diatas 5 persen, akan dimintai keterangan, apa penyebab dan usaha untuk pencegahannya.

"Hal itu bisa dilihat, apakah target 90 persen itu bisa tercapai hingga akhir tahun, dari capaian di semester I tahun ini. Bila semester I targetnya separo bisa dicukupi, tinggal melanjutkan. Bila tidak, akan kami panggil direksinya untuk dimintai penjelasan," lanjut Soekamto.

Permintaan penjelasan itu terkait, alasan apa yang membuat target di semester I tidak tercapai, kemudian potensi di semester II.

Jangan sampai, ketidakmampuan penyaluran, dan menjaga NPL tidak lebih tinggi, membuat perbankan itu diam saja. Harus segera mencari langkah dan strategi agar kredit macet bisa diantisipasi.

Dalam kesempatan itu, untuk wilayah Jatim, Soekamto sempat menyebutkan sektor kredit di wilayah Jatim yang perlu diawasi adalah sektor infrastruktur. Salah satunya soal industri beton, yang akibat adanya masalah pembebasan lahan, sehingga industri beton yang sudah produksi tiang pancang, tidak bisa langsung pasang, sehingga mengganggu cash flow.

"Nah ini berpotensi kredit macet. Karena itu, ada langkah restrukturisasi yang win-win solution dan aman," tandas Soekamto.

Terpisah, CEO BNI Wilayah Surabaya, Slamet Djumantoro, menyebutkan secara umum, NPL kredit di wilayahnya masih dibawah 3 persen.

"Kami agresif dalam penyaluran kredit, tapi kami juga selektif untuk antisipasi kredit macet," komentar Slamet.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help