Surya/

Berita Pendidikan Surabaya

Dampak SMA/SMK Dikelola Pemprov, Risma Sebut di Surabaya Per Hari 2 Siswa Dilaporkan Putus Sekolah

"Laporan anak putus (sekolah) per hari ada dua anak, dari SMA dan SMK," ucap Risma di ruang kerjanya, Rabu (5/7/2017).

Dampak SMA/SMK Dikelola Pemprov, Risma Sebut di Surabaya Per Hari 2 Siswa Dilaporkan Putus Sekolah
surya/fatimatuz zahroh
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Pengalihan pengelolaan SMA/SMK dari Pemerintah Kota Surabaya ke Pemprov Jatim ternyata membawa dampak bagi siswa Surabaya, utamanya angka putus sekolah meningkat.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bahkan sampai setiap hari menerima laporan siswa tidak mampu meneruskan sekolah dan akhirnya putus sekolah.

"Laporan anak putus (sekolah) per hari ada dua anak, dari SMA dan SMK," ucap Risma di ruang kerjanya, Rabu (5/7/2017).

Ia menyebutkan dalam sehari selalu ada laporan siswa putus sekolah. Laporan yang paling banyak adalah anak putus sekolah dari jenjang SMA.

Sebetulnya, lanjut Risma, banyak siswa yang sejatinya takut untuk tidak bisa membayar sekolah. Padahal menurut Risma sebelumnya tidak ada banyak laporan tentang anak putus sekolah.

"Bukan anak yang baru masuk sekolah yang laporan ke saya, tapi anak yang sudah jalan SMA tapi lalu memutuskan untuk tidak sekolah dan putus. Laporannya dari lurah," kata Risma.

Menurutnya fenomena ini menakutkan dan bahaya. Karena anak sampai tidak punya keinginan untuk melanjutkan sekolah. Hanya karena ada kenaikan biaya.

Sebab hal ini berbeda dengan kasus anak putus sekolah yang kini ditangani oleh Dinsos. Kebanyakan adalah kasus anak putus sekolah dari jenjang SD.

"Itu pun alasannya bukan karena biaya. Tapi karena kurang perhatian, broken home dan tidak dipedulikan oleh orang tuanya. Itu yang kita tangani," ucap Risma.

Lebih lanjut, Risma kini tengah berupaya bicara dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pasalnya Risma tengah berkonsultasi bagaimana untuk mengatasi permasalah banyaknya putus sekolah.

"Ini saya sedang mencari formulanya. Bagaimana kita bisa mengintervensi sekolah menengah. Supaya tidak semakin banyak anak yang putus sekolah," katanya.

Menurut Risma pihaknya sedang mengusulkan agar mengoptimalkan sekolah dharma wanita. Supaya siswa miskin yang kesulitan biaya bisa bersekolah dengan gratis.

"Tapi kendalanya sekolah dharma wanita kita hanya satu saja. Ini sedang kita carikan jalan keluarnya lah, supaya bagaiamana mengatasinya," katanya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help