Surya/

Citizen Reporter

Membawa Pulang Ritus Orhan Pamuk ke Madura

Orhan Pamuk menampik takdir bila penulis tak bakal bisa menghidupi dirinya sendiri .. dan Pamuk membuktikannya, bahkan nobel sastra pun diraupnya ...

Membawa Pulang Ritus Orhan Pamuk ke Madura
istimewa
Orhan Pamuk 

Reportase Fendi Chovi
Blogger/pegiat literasi/tinggal di Dungkek Madura

DIGELAR lesehan, sejumlah penikmat kesenian dan kesusastraan di Sumenep menggelar ngopi sastra bersama Bernando J Sujibto, di Taman Bunga, Rabu (21/6/2017) lampau.

BJ, sapaan master sosiologi dari Turki, aktif menelusuri karya-karya sekaligus berjumpa dengan peraih nobel sastra serta penulis novel My Name is Red, Ferit Orhan Pamuk

Peserta mendapat kopi tulisan Pamuk untuk memudahkan memahami seluk beluk Turki dan jejak Pamuk.

Diskusi bertajuk, Sastra Turki, Orhan Pamuk, Ritus Perjalanan itu, menjelaskan masa lalu Turki dan tantangan para penulis dekade 70 hingga 90, dan keterlibatan mereka sebagai penulis dalam gerakan sosial.

Menurut Bj, Pamuk merupakan salah satu penulis Turki yang sejak muda memutuskan menjadi penulis. Sejak hasrat menjadi penulis terlintas di benaknya, Pamuk memutuskan mengasingkan diri di dalam kamar selama delapan tahun demi membaca dan menulis.

"Menjadi penulis pun membutuhkan ongkos yang mahal. Itulah ritus seorang Orhan Pamuk mengenai tekadnya menjadi penulis," tuturnya.

Menurutnya, Pamuk menulis karena takut dilupakan. Oleh karena itu dia menulis. Meskipun demikian, jalan menuju penulis sebelum dikenal seperti saat ini tidaklah mudah.

Pamuk pernah diwanti-wanti ibunya, jika dunia sastrawan tak bisa menghidupi diri penulisnya. Nasehat yang membekas di pikiran Pamuk. Namun, dengan memenjarakan diri di dalam kamar selama delapan tahun, dengan totalitas membaca ribuan buku dan bahan bacaan lain di kamarnya serta kesadaran menjadi penulis. Pamuk berhasil mengusir kekhawatiran ibunya soal masa depan penulis.

Bj juga menguraikan teknik menulis Pamuk. Menurutnya, Pamuk lebih banyak menghabiskan ritus menulisnya di Instanbul dengan cara menghidupkan kembali napas kota, bangunan, hewan maupun pepohonan, dan orang-orang di dalamnya, lalu dilihat dan dihayati dengan mata dan hati dan kemudian ditansformasikan kembali semuanya dengan cara mendalam lewat tulisan-tulisannya.

Bj sendiri menyukai ritus berkarya seperti itu. Dia sendiri menyontohkan saat melakukan ritual perjalanan ke luar negeri. Sedikitnya, terdapat tiga hal yang bisa dilakukannya.

"Pertama, kesadaran menjadi orang asing, kedua, rasa ingin tahu yang besar, misalnya, bagaimana proses terbentuknya bangunan dan pergulatan sosio-cultural yang ada saat itu, ketiga, mempertanyakan sesuatu secara mendalam," tuturnya.

Ketiga cara itu, diakuinya mampu menjadi jalan untuk menulis secara lebih mendetail, berwawasan dan mendalam.

Seperti ditulis BJ, Pamuk dengan beban berpikir serta permenungan mendalam, dihantui takut namanya dilupakan begitu saja, di Instanbul dan dunia.

Pamuk senantiasa hadir dengan karya tentang lintasan sejarah kota kelahirannya, Istanbul. Diskusi di akhiri dengan tanya jawab serta pembacaan puisi.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help