Surya/

Citizen Reporter

Safari Gemar Membaca Nasional

tak ada kata terlambat untuk belajar, terbukti perpustakaan desa Suku Samin di Bojonegoro diganjar sebagai perpustakaan desa terbaik nasional ..

Safari Gemar Membaca Nasional
pixabay
ilustrasi 



Reportase Nurvati Indriani
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya

SAFARI Ramadan Senin (5/6/2017) di Graha Sawunggaling Surabaya terasa sungguh bedanya. Kegiatan itu dilaksanakan sebagai upaya implementasi revolusi mental melalui gerakan membaca nasional demi meningkatkan indeks literasi masyarakat.

Hadir Muh Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional, Arzeti Bilbina, anggota komisi X DPR RI, Sujono kepala perpustakaan dan kearsipan Jawa Timur, Wiwik Widayati, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya, dan Satria Dharma, pembina IGI dan inisiator gerakan literasi Kota Surabaya.

Mereka, pembicara dalam talkshow yang dimoderatori Martadi, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dalam talkshow dua jam, peserta yang adalah siswa, mahasiswa, guru, dosen, penulis dan penggerak literasi itu terlihat antusias menyimak.

Arzeti Bilbina yang mendapat kesempatan pertama memaparkan peranan legislatif dalam membangun perpustakaan dan gerakan nasional pembudayaan kegemaran membaca. Ia menjelaskan peran komisi X DPR RI yang diberi amanah mengatur pendidikan, kebudayaan, pariwisata, olahraga dan perpustakaan.

Ia menambahkan, komisi X baru saja mengesahkan undang-undang sistem perbukuan yang diharapkan memudahkan masyarakat mengakses buku.

Sementara Sujono, Wiwik, Satria Dharma, dan Syarif Bando membeberkan fakta dari lapangan. Sujono misalnya, mengatakan perpustakaan Jawa Timur mengoleksi 550.000 buku dan 15.000 buku di antaranya adalah  koleksi local content.

Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur,  21 di antaranya sudah mengembangkan literacy system secara integreted. Yang membanggakan,  perpustakaan desa milik Suku Samin di Margomulyo, Bojonegoro diganjar sebagai perpustakaan desa nasional.

Sebagai penggerak literasi, Satria Dharma menjelaskan tentang kesalahpahaman konsep literasi yang dipahami sebagai budaya baca tulis saja. Padahal literasi lebih luas dari itu, ia mencakup tentang bagaimana kemampuan memahami dan memaknai bahan bacaan dan menciptakan sesuatu.

Saat menjawab pertanyaan peserta, ia menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah yang berbudaya iqro. Ia tak mempermasalahkan orangtua yang tak suka membaca, ia menyarankan mereka agar mau memfasilitasi anaknya agar gemar membaca.

“Mari kita sadari pentingnya literasi bukan hanya bagi bangsa tetapi keluarga,” tuturnya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help