Surya/

Berita Sidoarjo

Begini bila Pemuda Sidoarjo Bicara NKRI dan Gerakan Radikal

Ketua Umum KNPI Pusat, M Rifai Darus, mengatakan pemuda berjiwa nasionalis, toleran, cendikia, melahirkan generasi maju untuk kelangsungan bangsa.

Begini bila Pemuda Sidoarjo Bicara NKRI dan Gerakan Radikal
surya/irwan syairwan
Bupati Sidoarjo Saiful Ilah (ketiga kiri) berfoto bersama seusai acara. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Pemuda memiliki pengaruh kuat bagi keberlangsungan generasi. Di tangan pemuda, arah bangsa ke depan akan ditentukan.

Pembahasan ini disampaikan pada acara Dialog Kepemudaan: Peran Pemuda dalam Menjaga Kebhinekaan, yang digelar Komine Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sidoarjo di Kantor Pemkab Sidoarjo, Minggu (18/6/2017).

Ketua Umum KNPI Pusat, M Rifai Darus, mengatakan pemuda yang berjiwa nasionalis, toleran, cendikia, akan melahirkan generasi maju untuk kelangsungan bangsa. Sebaliknya, pemuda yang radikal, intoleran, cupat, akan membawa negara pada perpecahan.

"Pemuda adalah kunci penangkal gerakan radikal," kata Rifai.

Rifai mengakui pemuda memang rentan disusupi pelbagai paham dan idealisme karena emosinya yang belum stabil.

Kendati demikian, jika rasa kebangsaan ditanam sedini mungkin akan menjafi benteng kuat yang mengakar.

Pihaknya sendiri selalu berkomunikasi dengan banyak organisasi kepemudaan maupun pelajar dan mahasiswa.

Komunikasi ini diperlukan untuk membendung aliran-aliran radikal yang memgarah kepada tindakan teror hingga makar.

"Jalinan komunikasi yang kuat akan membangun jaringan para pemuda. Dari sini, kekuatan pemuda Indonesia akan mampu menangkal apapun yang mau merongrong bangsa," sambungnya.

Rifai sendiri menyatakan gerakan radikal yang belakangan mencuat ini masih terlalu kecil untuk mengancam kesatuan NKRI.

Dijelaskan, gerakan radikal tersebut sifatnya hanya parsial dan bahkan masih bisa ditangani baik oleh aparat hukum maupun masyarakat.

Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah, mengingatkan para pemuda Sidoarjo untuk bijak ketika menggunakan medsos. Segala arus informasi yang masuk harus bisa disaring.

"Kalau ada informasi negatis yang beredar, dicek dulu kebenarannya. Kalau mengetahui informasi yang mengarah gerakan radikal atau bahkam tindakan makar, laporkan saja ke polisi," imbuh Saiful.

Penulis: Irwan Syairwan
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help