Surya/

Citizen Reporter

Kaya Bhumi Sasi Iku

sejarah telah menuliskan bagaimana wajah Lumajang dulu, bahkan hingga kondisinya yang sekarang ... lahan nan subur juga makmur ...

Kaya Bhumi Sasi Iku
imam nugroho/citizen reporter
Suaka purbakala Candipuro Lumajang 

Reportase Imam Nugroho
Karyawan swasta di Surabaya/pegiat literasi/pecinta fotografi

MENYIMAK ulang cerita sebelum Kerajaan Lamajang Tigang Juru hadir, ternyata jauh di ufuk selatan Situs Biting dan Candi Agung berdiri, geliat masyarakat di lereng  Gunung Semeru itu sudah ada dalam hal peribadatan suci.

Lamajang selain sebagai sentra keagamaan, juga memiliki tanah yang subur hingga layak disematkan dengan panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Imbas dari sebutan itu pun memunculkan desa-desa baru di Lamajang hingga tercipta suatu hubungan antara Lamajang dengan Kerajaan Kadiri dalam hal ritualitas keagamaan. Prasasti Tesirejo yang berbunyi: Kaya Bhumi Sasi Iku (seperti bumi bulan itu yang mengarah pada angka 1113 Saka atau 1191 M) inilah yang mendasari adanya hubungan itu sendiri.

Peninggalan lain yang juga mendukung Lamajang sebagai daerah penting adalah keberadaan Candi Gedhong Putri di Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro sekitar 12 Km dari pusat Kota Lumajang ke selatan.

Menyusuri jalan menuju candi, saya disuguhi pemandangan alam yang indah. Hamparan sawah yang berhadapan dengan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu (3.676 mdpl), seperti menuntun saya ke suatu tempat di mana sejarah Lamajang mulai dihembuskan.

Candi berupa tumpukan batu bata kuno lagi tak berbentuk ini menurut Ibu Elok, penjaga candi dari Balai Cagar Budaya Mojokerto, kuat dugaan sebagai basis pertama pemerintahan Lamajang berlangsung pasca-diangkatnya Narraya Kirana sebagai pelindung di Lamajang (Prasasti Mula Malurung tahun 1255 M).

Informasi lain yang saya dapat bahwa candi ini adalah bangunan kuno sebelum Situs Biting dan Candi Agung beredar di masa Kerajaan Lamajang Tigang Juru dengan rajanya Arya Wiraraja (1294 M). Bangunan ini bisa jadi merupakan kawasan permukiman para bangsawan berikut kota pendukungnya. Melengkapi informasi Bu Elok, saya juga melihat tempat pemujaan yang tak jauh dari candi berupa arca yoni.

Dinamakan Gedhong Putri karena ada anggapan bahwa nama Narraya Kirana putra  Wishnuwardhana Raja Singhasari keempat itu bukanlah wanita, melainkan pria.  Pria yang menjadi tokoh sentral serta mengawali menjadi soko guru bagi kejayaan Lamajang kelak di kemudian hari.

Kaya Bhumi Sasi Iku merupakan penggambaran akurat akan suasana Lamajang saat itu hingga sekarang yang subur juga makmur. Apalagi kepedulian terhadap sejarah masa lampau patut untuk disimak pun diabadikan pelestariannya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help