Surya/

Citizen Reporter

Madura dalam Bingkai Teater dan Sastra

Madura acap digambarkan dalam alur keras dan kering .. sejatinya sisi lembut pulau garam ini bisa disimak lewat sastra dan teaternya ...

Madura dalam Bingkai Teater dan Sastra
pixabay
ilustrasi 

Reportase Mochamad Gigih Pebrianto
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

“Apakah betul teater itu selalu berorientasi ke pertunjukan? Lalu apa hasilnya selama ini? Apakah ia memberikan kontribusi? Apakah publik jadi ikut berkembang?”

BERONDONGAN pertanyaan Afrizal Malna terlontar saat membuka seminar nasional yang diselenggarakan UKM-F Teater Sabit, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Selasa (23/5) silam.

Khusus Dies Natalis ketiga tahun ini, UKM-F Teater Sabit mengundang Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta itu lewat tema Melihat kembali Madura dalam Matarantai Teater dan Sastra.

Tampak penyair Timur Budi Raja selain beberapa dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, UTM. Tak luput antusiasme mahasiswa baik dari fakultas ilmu pendidikan maupun fakultas lain. Hal itu terlihat dari banyaknya peserta seminar yang aktif bertanya, salah satunya Safif.

“Bagaimana jika saya membentuk kelompok pertanian di desa, sembari berdiskusi dan membaca. Mungkin kalau bisa, juga menciptakan suatu pertunjukkan kesenian?” tanya Safif, pendiri UKM-F Teater Sabit itu.

Antusiasme tersebut langsung dijawab oleh Afrizal Malna, bahwa memadukan komunitas pertanian sekaligus komunitas seni sangat dimungkinkan. Lebih lanjut, peraih Khatulistiwa Award 2013 untuk buku puisi Museum Penghancur Dokumen itu berujar, sains dan seni pun harus dipadukan. Hasil riset akademisi bisa dipentaskan dalam pertunjukkan teater.

Mahasiswa semakin antusias kala moderator, Ahmad Jamiul Amil, MPd, mempersilakan peserta bertanya. Diskusi dialogis pun terjadi kala Afrizal Malna memaparkan konsep dinding yang dijelaskannya guna menelusuri jejak teater di Madura.

“Bagaimana teater itu kita jadikan media untuk mapping, melihat kembali matarantai produksi di teater. Dan setiap matarantai itu kita kembangkan menjadi sesuatu!” ucapnya.

Acara seminar pun berlangsung santai, tapi dengan pembahasan serius. Sastrawan nasional itu membubuhi materi dengan bahan bercandaan ringan, analogi, cerita sejarah, dan contoh dalam kehidupan nyata. Membuat ruangan yang dingin menjadi lebih hangat. Para peserta secara bergantian menanyakan perihal teater, khususnya teater di Madura.

Pada malam pentas naskah monolog Matahari Terakhir yang dibawakan Kopet Petteng dan Perempuan Harum Kamboja yang dilakonkan Yuni JN, secara langsung Afrizal bertindak sebagai komentator.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help